• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

BPPT Gandeng Institusi Jepang, Perkuat Riset Energi Bersih dan Kebencanaan

9 October
17:08 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Tujuan Pembangunan Keberlanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s) menuntut setiap negara untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi bersih dalam segala aspek. Tak terkecuali di Indonesia, kesiapan pemanfaatan potensi sumber daya energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan itupun terus dikaji terap oleh berbagai pihak.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pihaknya terus mendorong upaya pemanfaatan energi bersih di berbagai sektor. Mulai dari pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang beroperasi di Bantargebang, pengembangan riset kendaraan listrik nasional yang telah menghasilkan inovasi fast charging station untuk mengisi daya kendaraan berbasis listrik, hingga uji jalan (Road Test) pemanfaatan bahan bakar Biodiesel B30 yang diaplikasikan pada kendaraan konvensional.

“BPPT juga melakukan riset terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi atau PLTP, Tenaga Surya atau PLTS, serta pengembangan kawasan mandiri energi berbasis EBT di wilayah Baron Technopark, Gunung Kidul, Yogyakarta,” paparnya via pesan instan, usai melakukan penandatanganan MoU dengan Kyuden Mirai Energy Company Incorporated, anak perusahaan dari Kyushu Electric Power, perusahaan utilitas listrik dari Jepang, bersama Awina Sinergy Internasional, di Jepang, Rabu (9/10/2019).

Dituturkan Hammam, pihaknya menggandeng perusahaan Jepang tersebut, guna mendorong akselerasi penguasaan teknologi di bidang energi. Khususnya terkait pengembangan fasilitas pengisi daya kendaraan berbasis listrik, atau charging station.

Masih dalam rangkaian agenda kerjanya di Jepang, Hammam menyebut bahwa dirinya usai menjadi pembicara di Science and Technology Forum in Society (STS Forum) 2019 di Kyoto, Jepang, juga melakukan pertemuan dengan insitusi riset negeri matahari terbit, yakni Jamstec.

Saat menemui President Jamstec Tadashi Matsunaga, Hammam membahas pemanfaatan teknologi dalam setiap aspek kebencanaan, baik dari sisi mitigasi, saat bencana, hingga paska bencana.

Dalam hal mitigasi bencana dijelaskan Hammam adalah mulai dari early warning system. Kemudian kesiapan teknologi saat terjadi bencana, yakni kehandalan sensor-sensor sebagai pendukung peringatan dini. Kemudian untuk pasca bencana, yakni pengembangan teknologi pangan untuk bencana.

BPPT lanjut Hammam, tengah fokus membangun teknologi Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina TEWS), yang telah kami deploy awal 2019 ini. Kedepan juga direncanakan akan kembali mendeploy 4 buoy tsunami, serta CBT atau Cable Based Tsunameter.

“Sebelumnya April 2019 ini kami telah memasang buoy tsunami di kawasan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Untuk selanjutnya juga akan dipasang kembali di perairan Selatan Jawa untuk mengantisipasi megathrust. Kami juga akan melengkapi perangkat deteksi dini tersebut dengan pemasangan CBT," terang Kepala BPPT. 

Mendukung pernyataan Hammam, President Jamstec Tadashi Matsunaga mengungkapkan bahwa Jamstec siap mendukung BPPT dalam melakukan riset dan pengembangan kompetensi teknologi. 

"Terkait dengan disaster management, pengetahuan terkait kebencanaannya itu sendiri pun perlu untuk dipahami lebih lanjut. Karenanya pihak kami sangat senang dapat berbagi pengalaman dengan BPPT terkait teknologi mitigasi bencana yang telah kami lakukan di Jepang," katanya. 

Pembangkit Listrik Berbasis Clean Energy

Masih dalam agenda kerja Kepala BPPT di Jepang, Kepala BPPT melakukan tinjauan ke beberapa lokasi. Mulai dari meninjau fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Fukuoka Clean Energy,  serta mendatangi Buzen Fukuoka Perfecture, Kyushu guna meninjau Buzen Energy Storage Substation, yang merupakan salah satu pembangkit listrik berbasis baterai terbesar di dunia.

"Sebuah hal yang menarik untuk kita terapkan juga di tanah air, PLTSa Fukuoka ini mampu mengolah sampah dengan skala 900ton per jam olahan sampah, dan menghasilkan hingga 29 MW listrik maksimal. Kami tentu akan coba untuk mengembangkan PLTSa Bantargebang, untuk dapat beroperasi dengan skala lebih besar,” ujarnya.

Lebih lanjut saat berada di Buzen Fukuoka Perfecture, usai melihat fasilitas Pembangkit listrik berbasis baterai Buzen Energy Storage Substation berkapasitas 50 MW, Kepala BPPT juga berkunjung ke fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Biomass (PLTBm).

Usai melihat PLTBm, Hammam menyebut bahwa Indonesia juga mampu untuk membuat pembangkit seperti ini.

“Bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Biomass  ini adalah cangkang kelapa sawit. Yang nyatanya banyak tersedia di Indonesia. Kita tentu bisa untuk membuat fasilitas seperti ini, BPPT siap untuk melakukan kliring teknologi dan tentunya, pemangku kepentingan terkait harus mau berinvestasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi bersih,” tegasnya.

Sebagai informasi, penandatanganan MOU antara BPPT - Kyuden Mirai Energy Co., Inc. - PT Awina Sinergi International, dilaksanakan dengan topik Garam Industri, Charging Station dan Pembangkit Listrik.  Sebelumnya pada rangkaian Kunker di Jepang itupun, sempat menghadiri pertemuan Science and Technology (STS) Forum 2019 di Kyoto, Jepang, serta menjadi Ketua Sidang pada pembahasan Internet of Things (IoT). 

Lebih lanjut Kepala BPPT juga mengunjungi kantor JBMIA (Japan Bussiness Machine and Information System Industries Associations). BPPT dengan JBMIA pun telah melakukan kerjasama, terkait pemanfaatan laboratorium uji EMC (Electro Magnetic Compatibility) BPPT yang berada di Kawasan Puspiptek, Tangsel.

"Kami juga terbuka bagi Industri elektronika dalam negeri, untuk dapat memanfaatkan laboratorium uji ini untuk meningkatkan daya saing produknya,"  tutupnya. (Rel) 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00