• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Zita Bocah yang Menekuni Kerajinan Tradisional Warisan Leluhur

5 February
18:32 2020
1 Votes (5)

KBRN, Sendawar: Zaman modern seperti sekarang ini sangat jarang sekali kita menemukan anak-anak yang bergelut dengan kerajinan tradisional peninggalan leluhur. Anak-anak kebanyakan memilih bermain game di handphone atau komputer. Namun tidak demikian dengan Zita Widiya Apriliani (9), yang kini sudah bergelut dengan Kerajinan Sarut atau salah satu kerajinan tradisional peninggalan leluhur masyarakat Dayak Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Lahir di Kampung/Desa yang menjadi sentra Kerajinan Sarut di Kubar yakni Kampung Bomboy Kecamatan Damai, membuat darah seni leluhur mengalir dalam dirinya. Pada usianya yang masih belia, Zita sudah mampu menyulam sarut, bahkan kini sudah bisa membuat karyanya sendiri.

Padahal, kerajinan sarut ini terkenal dengan tingkat kesulitannya, butuh konsentrasi karena menyulam langsung menggunakan tangan tanpa gambar atau sebuah karya yang lahir dari imajinasi, dengan hasil yang sangat indah.

Saat dikonfirmasi RRI Sendawar, Rabu (5/2/2020) gadis cilik yang masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar (SD) tersebut mengatakan, sudah mencintai kerajinan sarut setelah dikenalkan oleh orang tuanya sejak dua tahun silam.

Dengan polosnya Zita mengungkapkan, walaupun sulit namun ia tetap ingin menekuni kerajinan sarut ini sampai usia dewasa sehingga bisa menghasilkan banyak karya dengan inovasi dan kreasi yang bisa bersaing dipasaran. Bahkan ketika disinggung mengenai waktunya bermain, dengan tersenyum gadis belia berparas cantik ini mengaku waktu bermainnya sudah cukup dilakukan bersama teman-temannya di sekolah.

“Saya baru bisa bikin matan pune aja, kalau sekarang sudah gak susah buatnya. Pas pertama belajar aja yang susah, tapi saya tetap mau belajar sampai besar supaya tahu. Ini saya buat untuk dijual bantu mama, kalau yang sudah saya buat sendiri baru dua bando, ini bikin pendeng lagi tapi belum selesai. Saya buatnya pas pulang sekolah, jadi kalau mainnya ya pas di sekolah aja, sama teman-teman,” katanya.

Kendati demikian, karena usianya yang masih sangat belia, tentu naluri untuk bermain tetap ada, sehingga kegiatannya menyulam sarut ini tidak dilakukan setiap hari atau paruh waktu karena tidak ada paksaan dari orang tuanya, murni dilakukan dengan keinginannya sendiri.

Seakan tak ingin kerajinan sarut ini punah ditelan zaman yang terus berkembang, Zita mengajak teman-teman sebanyanya untuk menekuni kerajinan peninggalan leluhur suku dayak yang mendiami  Kutai Barat, tidak hanya kerajinan sarut, namun juga kerajinan tradisional lainnya.

Berkaitan hal ini, saat dikonfirmasi Ketua Tim Penggerak PKK yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kubar Yayuk Seri Rahayu Yapan, mengaku terkesan dengan kemauan Zita untuk menekuni keraajinan tersebut.

Yayuk berharap lebih banyak lagi generasi muda yang mau mencintai warisan leluhur dengan melestarikannya karena sangat banyak kerajinan tradisional, dengan potensinya masing-masing di Kabupaten Kutai Barat.

“Saya sangat terkesan sekali karena disini ada anak kecil yang bisa menyulam sarut ini, dia tekunin dan sekarang dia sudah bisa memproduksikan hasil karyanya yang bagus. Jadi saya berharap lebih banyak lagi generasi-generasi muda yang mencintai warisan nenek moyang kita terdahulu. Lebih banyak lagi anak-anak muda yang bentul-betul mencintai wastra-wastra yang ada di Kutai Barat ini,” harapnya.

Secara khusus, Yayuk juga berpesan kepada pengrajin di Kutai Barat agar tidak hentinya berinovasi, menciptakan kreasi baru dari produk kerajinan yang dihasilkan tanpa menghilangkan unsur tradisionalnya.

Seperti diketahui, khusus kerajinan sarut ini, disulam diatas kain atau pakaian, seperti baju dan rok, juga bisa dibuat pada berbagai aksesoris seperti bando, ikat pinggang, tas selempang termasuk dompet dan masih banyak lagi lainnya, karena proses produksinya masih sangat tradisional dan membutuhkan konsentrasi untuk menciptakan motif yang indah, tentu membutuhkan waktu lama dalam membuat satu produk yakni 1 minggu hingga 3 bulan pembuatan.

Kerajinan Sarut ini sendiri, memiliki beberapa motif diantaranya, motif matan pune, tingang, sengkoit dan benang. Semua motif itu dibuat tanpa menggambar atau berimajinasi, dituangkan langsung dalam sebuah karya sulaman.

Rekomendasi Berita
tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00