• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Nasi Sagu Berempah dari Kepulauan Meranti, Dianggap Mampu Tangkal Corona

15 March
20:26 2020

KBRN, Selatpanjang: Olahan sagu dari Kepulauan Meranti sudah dikenal masyarakat luas. Seperti mie sagu yang menjadi makanan favorit dan ikon dari Provinsi Riau. 

Namun kini, olahan sagu sudah banyak inovasi. Berasal dari pulau yang ditumbuhi sagu seluas 2 ribu hektar. Olahan sagu terbaru dikenalkan oleh seorang akademisi Universitas Trisakti, Jakarta, Saptaring Wulan dalam Festival Sagu Nusantara yang digelar di Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau pada 14-15 Maret 2020.

Nama masakan ini adalah nasi berempa atau nasi sagu rempah. Nasi yang berasal dari sari pati sagu diolah menjadi makanan yang mengandung serat tinggi. Selain itu makanan ini juga kaya akan rempah-rempah Indonesia sehingga dianggap mampu menangkal virus corona yang sedang mewabah dunia. 

"Sari pati sagu kita olah menjadi nasi berempa yang mana rempah-rempah asli Indonesia. Kenapa kita pake rempah-rempah karena pertama mempengaruhi aroma. Kedua akan mempengaruhi rasa dan ketiga anti oksidan untuk diri kita yang mampu menangkal virus corona (Covid-19)," ungkap Saptaring Wulan, Minggu (15/3/2020) siang. 

Dikatakan Saptaring, sagu Meranti mampu menghasilkan 22 ton dalam setahun. Mendukung hal tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menciptakan mesin mengolah sagu menjadi beras. 

"Namun untuk mengolah sagu perlu teknik sehingga rasanya bisa diterima masyarakat. Masalahnya di aroma, aromanya asem," lanjutnya. 

Seiring waktu berjalan hasil riset yang dia lakukan ternyata nasi sagu rempah kaya akan bahan antioksidan. Hal itu karena bumbu rempah yang digunakan terdiri dari cengkeh, kapulaga, kayu manis, serai, jahe dan bermacam rempah lainnya. 

Selain itu, dia juga mengaku bahwa nasi sagu sangat baik untuk pengganti beras padi bagi para penderita diabetes karena kandungan glukosa yang lebih rendah. Untuk itu, dia mengatakan akan terus berupaya mendorong sagu sebagai bahan makanan utama dan diterima masyarakat Indonesia dengan baik. 

Sementara itu, Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia, Haris Gunawan mengatakan upaya yang dilakukan Wulan merupakan bagian upaya penyelamatan gambut yakni dari segi revitalisasi ekonomi yang membantu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. 

"Sagu ini banyak tumbuh di pesisir. Artinya sagu ini butuh air, kita harus jaga itu. Apalagi di Tebing Tinggi adalah gambut. Harapan kita dengan komoditi sagu meningkatkan perekonomian masyarakat. Sebagai topang ekonomi maka sagu harus dirawat dengan baik begitu juga gambut," ungkap Haris. 

Haris mengungkapkan sagu merupakan tanaman yang cocok untuk lahan gambut karena bisa tumbuh di tanah basah dan air. Penggunaan tanaman sagu untuk memulihkan lahan gambut sejalan dengan upaya Badan Restorasi Gambut (BRG). 

"Masalah kebakaran, gambut kalau kedalaman airnya dari permukaan tanah basah 40 cm itu gambut tidak dimakannya. Tapi kalau air turun satu meter atau kekeringan gambut tetap dimakannya," terangnya. 

Upaya Restorasi gambut dianggap mampu menekan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Salah satunya dengan penanaman pohon sagu. 

"Tahun 2014 terjadi kebakaran luar biasa disini. Kami memadamkan api hampir 3 bulan. Namun pernah terjadi kebakaran seluas 1,5 hektar baru-baru ini tetapi dalam 2 jam saja api dapat dipadamkan. Dikarenakan gambut nya tetap basah dan adanya upaya pemadaman yang maksimal menyebabkan penurunan karhutla di Kepulauan Meranti," pungkasnya. 




00:00:00 / 00:00:00