• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Seluruh India Resmi Lockdown, PM Modi : Jika Tidak, Banyak Keluarga Akan Hancur

25 March
02:30 2020

KBRN, New Delhi : Tindakan ekstrem dilakukan dengan maksud mencegah bencana di negara dengan layanan kesehatan yang buruk.

India telah melakukan upaya lockdown atau penguncian/pembatasan terbesar dalam krisis Coronavirus dengan memerintahkan 1,3 miliar orang untuk tinggal di rumah mulai tengah malam selama tiga pekan untuk mencegah bencana kesehatan masyarakat.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa malam, Perdana Menteri (PM) Indoa, Narendra Modi mengumumkan bahwa selama 21 hari ke depan, hampir seperlima dari populasi dunia (penduduk India) harus siap memaklumi kebijakan yang diambil pemerintah.

"Mulai jam 12 tengah malam hari ini, seluruh negara akan dikurung total untuk menyelamatkan India dan untuk setiap warga India, akan ada larangan total untuk keluar rumah. Selain itu, aku memintamu untuk tetap berada di negara ini," kata Modi, seperti dilansir The Guardian, Selasa (24/3/2020) malam.

Sejauh ini India memiliki jumlah kasus Corona Virus Disease 2019 atau disingkat COVID-19 yang relatif rendah, dengan 469 infeksi dan 10 kematian sejauh ini, dan pemerintah telah memperkenalkan langkah-langkah ketat untuk coba menghentikan penularan lokal di negara dimana jutaan orang hidup dalam kondisi padat penduduk dengan sanitasi yang buruk dan akses layanan kesehatan terbatas.

Saat ini hanya ada 40.000 ventilator di India, satu tempat tidur isolasi per 84.000 orang dan satu dokter per 11.600 orang India. Lebih dari 1,8 juta orang di seluruh negeri sedang dipantau karena mereka telah menunjukkan gejala penyakit, bepergian dari luar negeri atau terkena kasus yang dikonfirmasi.

Dikhawatirkan angka infeksi yang rendah terkait dengan kurangnya tes, dengan hanya sekitar 17.000 tes yang dilakukan sejauh ini. Virus ini sekarang telah menyebar ke hampir semua negara bagian di India, dengan jumlah kasus tertinggi di Maharashtra, di mana kota Mumbai berada, dan negara bagian selatan Kerala. Ada 41 orang asing di antara yang terinfeksi.

Dalam pidatonya, Modi mengatakan bahwa pemerintah dan para ahli telah menghabiskan dua bulan terakhir mempelajari wabah virus Corona di negara-negara lain dan telah menyimpulkan bahwa menjauhkan kerumunan sosial secara paksa melalui penguncian (lockdown) adalah satu-satunya solusi untuk mencegah penyebaran Corona terjadi di India.

“Jika kami tidak dapat mengelola pandemi ini dalam 21 hari ke depan, banyak keluarga akan hancur selamanya,” sambung Modi.

Pengumuman itu ternyata ikut mendorong panic buying warga India di seluruh negeri. Ribuan orang bergegas untuk mendapatkan persediaan makanan dengan antri mengepung toko-toko kelontong.

Pengumuman itu juga kemungkinan akan berdampak buruk pada 300 juta orang India yang hidup di bawah garis kemiskinan dan bertahan hidup dari mulut ke mulut berdasarkan pendapatan harian. Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman telah berjanji paket bantuan komprehensif akan segera diumumkan.

Di New Delhi, yang telah dikunci (lockdown) sejak hari Minggu kemarin, dengan batas-batas negara bagian ditutup, taksi dan becak dibersihkan dari jalan-jalan, semuanya kecuali perjalanan penting dilarang dan toko-toko serta restoran tutup, terus berjalan hingga hari ini.

Menteri Utama India, Arvind Kejriwal langsung mengambil kebijakan mendirikan tempat penampungan di pusat kota Delhi, dimana warga kota bisa datang untuk makan gratis. Langkah-langkah lockdown PM Modi dinilai sejalan dengan apa yang direkomendasikan para ahli karena memang diperlukan oleh India. 

Rupam Bhattacharya, seorang anggota kelompok penelitian Cov-Ind-19 di University of Michigan yang meneliti secara spesifik wabah Coronavirus di India mengatakan, pandemi ini berkembang dengan cepat.

"Dan satu-satunya cara kita agar dapat mengatasinya adalah dengan mengimbangi penyebaran (virus) melalui tindakan pencegahan yang cepat dan ketat,” sebut Bhattacharya.

"Jika terlalu banyak orang yang terkena dampak pada saat yang sama, itu menciptakan tekanan besar pada sistem perawatan kesehatan. Dengan populasi tinggi dan sumber daya rendah yang dimiliki India, bisa menyebabkan keruntuhan (jika virus menyebar)," tutupnya. (Foto: AP/Rafiq Maqbool & Rajesh Kumar Singh/TheGuardian)

00:00:00 / 00:00:00