• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Opini

India Terancam Hancur Akibat COVID-19 dan Nasib Komoditas Cengkeh

25 March
03:20 2020

KBRN, Jakarta : Corona Virus Disease 2019 atau disingkat COVID-19 ternyata memang ikut menyerang India. Namun karena rendah sekali jumlah kasus dan tingkat kematiannya, sehingga tidak terekspos secara global. 

Namun kali ini, kasus positif virus Corona di India sudah menyentuh angka 469 terinfeksi dengan 10 kematian. Oleh karena itu, tepat Selasa, 24 Maret 2020 tengah malam, Perdana Menteri (PM) Narendra Modi mengumumkan Lockdown selama 21 hari untuk seluruh India.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa malam, Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi mengumumkan bahwa selama 21 hari ke depan, hampir seperlima dari populasi dunia (penduduk India) harus siap memaklumi kebijakan yang diambil pemerintah.

"Mulai jam 12 tengah malam hari ini, seluruh negara akan dikurung total untuk menyelamatkan India dan untuk setiap warga India, akan ada larangan total untuk keluar rumah. Selain itu, aku memintamu untuk tetap berada di negara ini," kata Modi, seperti dilansir The Guardian, Selasa (24/3/2020) malam.

Kekhawatiran warga dunia pasti sama dengan yang ada di benak para pejabat India, bahwa mereka harus mengambil langkah ekstrem sejak awal. Karena jika tidak, India akan hancur lebur akibat Coronavirus melebihi Italia. Kenapa sampai separah itu? Seperti dilansir The Guardian, sebanyak 1,3 miliar warga di sana belum mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik selama ini.

Bisa dibayangkan jika ada serangan Corona? Pastinya menjadi bencana teramat sangat besar untuk India, negara dimana jutaan orang hidup dalam kondisi padat penduduk dengan sanitasi yang buruk dan akses layanan kesehatan terbatas.

Saat ini diperkirakan hanya ada 40.000 ventilator di India, satu tempat tidur isolasi per 84.000 orang dan satu dokter per 11.600 orang India. Dan terkait Corona, lebih dari 1,8 juta orang di seluruh negeri sedang dipantau karena mereka telah menunjukkan gejala penyakit setelah bepergian dari luar negeri atau terkena kasus yang dikonfirmasi.

Kemudian, kekhawatiran memuncak juga terkait angka infeksi yang rendah selama ini. Karena ternyata, selama ini India kurang menjalankan tes untuk virus Corona bagi warganya. Hanya sekitar 17.000-20.000 tes yang dilakukan sejauh ini.

Sempat beredar video amatir sepekan sebelumnya ketika warga Singapura memborong cengkeh sebagai penangkal virus Corona. Menurut info yang beredar di Singapura, Corona tidak berhasil menjangkiti warga India karena semua makanannya menggunakan cengkeh sebagai rempah-rempah bumbu. Cengkeh sendiri dipercaya berkhasiat menjaga imunitas tubuh guna membunuh virus apapun yang hendak masuk, termasuk Corona. 

Tapi sekarang, ketika mengetahui bahwa angka kontaminasi Coronavirus di India selama ini kecil sekali salah satunya akibat tidak maksimalnya tes infeksi Corona oleh pemerintah setempat terhadap warganya, sepertinya si penyebar video akan berpikir ulang.

Tapi soal cengkeh tadi, layak dicoba juga. Karena jika India selamat dari Corona, khasiat cengkeh diprediksi akan mengalahkan jahe-temulawak-kunyit. Komoditas ini akan menjulang tajam di pasaran pasca hantaman Corona. Perlu diingat, Indonesia merupakan salah satu penghasil cengkeh kualitas unggul di dunia.

Seluruh India Masuk Darurat COVID-19

Dan seperti yang diprediksi maupun dikhawatirkan, COVID-19 sekarang telah menyebar ke hampir semua negara bagian di India, dengan jumlah kasus tertinggi di Maharashtra, di mana kota Mumbai berada, dan negara bagian selatan Kerala. Ada 41 orang asing di antara yang terinfeksi.

BACA JUGA: Seluruh India Resmi Lockdown, PM Modi : Jika Tidak, Banyak Keluarga Akan Hancur

Pemerintah dan para ahli telah menghabiskan dua bulan terakhir mempelajari wabah virus Corona di negara-negara lain dan telah menyimpulkan bahwa menjauhkan kerumunan sosial secara paksa melalui penguncian (lockdown) adalah satu-satunya solusi untuk mencegah terjadinya penyebaran Corona massal di India.

“Jika kami tidak dapat mengelola pandemi ini dalam 21 hari ke depan, banyak keluarga akan hancur selamanya,” tegas PM Narendra Modi.

Saat ini, keadaan di India sudah berlaku jam malam. Semua penduduk di seluruh kota maupun daerah terpencil tidak diperkenankan berkeliaran di jalanan. Bisa keluar rumah, namun hanya untuk keperluan yang memang sangat penting saja berkaitan dengan pemenuhan bahan makanan di rumah masing-masing saja. Jalanan sibuk sepi dan bisnis tutup.

Bahkan saat jam malam, sistem kereta api India yang dalam waktu normal membawa 23 juta penumpang per hari ikut ditangguhkan perjalanannya. Tercatat lebih kurang 1.000 orang warga Kalkuta ditahan pihak keamanan karena melanggar dengan sengaja kebijakan lockdown tersebut.

Suasana Ibu Kota New Delhi juga dijaga dengan begitu ketat saat lockdown hingga 21 hari ke depan. Perbatasan kota ditutup untuk semua aktivitas kecuali distribusi persediaan makanan, air dan bahan bakar. Transportasi umum ditutup, taksi dan becak dijauhkan dari jalan dan perintah telah diberlakukan untuk mencegah kumpulan massa lebih dari empat orang. 

Bagi mereka yang masuk karantina, rumahnya akan ditandai dengan stiker sebagai upaya mencegah keluarga di rumah tersebut pergi keluar rumah.

Pemerintah merasa perlu melakukan lockdown 21 hari karena menemukan bukti kuat bahwa masuknya virus Corona ke negara tersebut berhubungan erat dengan aktivitas warga mereka yang pulang dari bepergian ke luar negeri. Dan kasus infeksi langsung muncul di New Delhi maupun kota terpencil di negara bagian Rajasthan. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit itu sudah mulai menyebar secara lokal.

Pembatasan kegiatan diberlakukan untuk semua kota besar seperti New Delhi, termasuk Mumbai dan Kolkata (dulu dikenal dengan Kalkuta). Negara bagian Rajasthan, Punjab dan Jammu dan Kashmir, dan total 80 distrik di seluruh India, telah diberlakukan lockdown juga, yang melibatkan penangguhan angkutan umum dan penutupan kegiatan bisnis.

Satu hal unik dari keadaan di India saat ini, setiap pukul 5 sore, seluruh warga di negara tersebut diminta berkumpul di Balkon rumah masing-masing untuk bertepuk tangan, bernyanyi, menggedor panci dan beragam barang pecah belah lainnya, guna memberikan apresiasi tinggi atau dukungan moril bagi para pekerja kesehatan negara yang sekarang sedang berjuang menyembuhkan warga India yang terinfeksi COVID-19. (Foto: EPA/Jagadeesh Nv)

00:00:00 / 00:00:00