DLH Kalsel Terus Berupaya Kurangi Keberadaan Jamban Apung

Kadis LH Provinsi Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana saat diwawancara awak media. foto: istimewa

KBRN, Banjarmasin: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus berupaya mengurangi keberadaan jamban apung yang berderet di sungai wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjarmasin.

Kepala Dinas LH Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana mengungkapkan, secara perlahan, jumlah jamban apung sudah mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Upaya yang dilakukan DLH Kalsel dengan dinas terkait di kabupaten/kota dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat yang bermukim di bantaran sungai tentang dampak negatif dari buang hajat di sungai.

Hanifah menyebut, berdasarkan data yang di peroleh dari Dinas PUPR Kabupaten Banjar yang melakukan identifikasi jamban apung di sejumlah sungai di 8 kecamatan yang dimulai pada awal 2017 hingga 2021, jumlah jamban apung yang masih belum dibongkar sebanyak 2.411 buah.

"Survey dan identifikasi ini bertujuan untuk memverifikasi dan mendapatkan data yang akurat terkait jumlah jamban apung yang ada di sungai-sungai di wilayah Kabupaten Banjar," ujar Hanifah Dwi Nirwana kepada awak media di Banjarbaru.

Hanifah berujar, tidaklah mudah merubah kebiasaan masyarakat yang sudah turun temurun 'buang air' di sungai. 

Tak hanya di sungai yang belokasi di  kabupaten Banjar, di Kota Banjarmasin sendiri sebagai Ibu Kota Provinsi Kalsel, jamban apung masih banyak ditemui di sungai Martapura dan anak sungai lainnya yang membelah kota berjuluk 'seribu sungai' itu.

Hanifah merincikan, ada 27 buah jamban apung yang masih aktif mulai Banua Anyar, Sungai Bilu Laut, Seberang Masjid hingga jembatan Pasar Lama.

Kemudian di wilayah Sungai Jingah, Panglima Batur, Pasar Lama Laut sebanyak 84 buah jamban apung yang masih aktif.

Di jembatan Pangeran Antasari, Teluk Kelayan, RK Ilir dan Teluk Kelayan masih ditemukan 62 buah jamban apung.

Sepanjang Teluk Tiram Darat, Tembus Mantuil  17 buah. Tanjung Berkat, Banyiur Luar 72 buah. Keramat Basirih 33 buah. Pulau Bromo Ujung (Pos Polisi Air Muara Mantuil) 92 buah. Banyiur Luar (Jembatan Kembar Basirih Jl. Tol) – Jl. Teluk  Mesjid Ujung (Dermaga Fery Mantuil Tamban)69 buah.

"Dari pantauan yang dilakukan, di sepanjang sungai Martapura masih ada 459 buah jamban apung yang masih aktif. Ini tentu tugas kita bersama agar jumlah tersebut terus bisa berkurang," ujarnya.

Hanifah mengatakan, masih banyaknya jamban apung, mengakibatkan air sungai tercemar ecoli sehingga berdampak bagi kesehatan. Selain itu, adanya usaha budidaya ikan menggunakan jaring apung juga turut andil menyebabkan sungai tercemar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar