Mentari di ujung Senja

Penghuni Panti Sosial .jpg

KBRN, Banjarmasin : Langkah kakinya bergegas tatkala waktu menunjukan pukul 03.00 Wita. Gembok pagar pun dibuka menandakan dimulainya aktifitas di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera.

"Kalau ramadhan biasanya kegiatan lebih pagi. Seperti memandikan, mengganti sprei sampai menyiapkan menu sahur," Ucap Yudi, Kamis(22/4/2021).

Yudi Irawan (33) adalah pengasuh di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera pada wisma pelayanan khusus (pelsus). Sudah 10 tahun Ia melakoni pekerjannya. Selama itu pula banyak hal yang didapat ketika merawat para lansia.

"Gimana ya sulit sih untuk dijelaskan dengan kata - kata. Karena bagi saya mereka ini sudah seperti orang tua saya sendiri. Jadi sama sekali tidak ada beban untuk mengurus mereka,"katanya.

Apa yang dilakukan oleh Yudi memang terasa spesial. Karena sebagai pengasuh di pelsus memerlukan empati yang tinggi karena dituntut kesabaran dan keikhlasan.

"Pernah ada teman yang coba jadi pengasuh di pelsus tapi hanya beberapa bulan. Mungkin gak tahan baunya. Karena maaf disinikan juga penghuninya adalah sebagaian besar ODGJ,"tuturnya.

Panti sosial bagi Yudi yang dulunya pernah menjadi penjual pentol keliling memang memiliki kenangan khusus. Karena ditempat ini lah Ia akhirnya melepaskan masa lajangnya untuk mempersunting Mahmudah sebagai istri. Dengan malu – malu Ia menceritakan kepada RRI.

“Istri saya juga pengasuh disni. Kebetulan juga dipelsus. Kalaua saya ditempat kakek kalau dia diruangan yang khusus nenek,”jelasnya. 

Setelah 4 tahun menjadi partner kerja, mereka pun akhirnya memutuskan untuk melanjutkan dalam bingkai pernikahan dan kini sudah dikarunai 1 orang anak bernama Adila.

Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera yang berlokasi di Landasan Ulin Banjarbaru memiliki 14 wisma dengan jumlah penghuni 110 orang. 

Berbagai perilaku unik diperlihatkan para penghuni. Ada yang hanya mau makan dikursi yang sama seperti yang dilakukan Nenek Farida dan ada juga Gozali yang hobinya merapikan sandal dimushola ketika ada kegiatan keagamaan.

"Tung Keripit ahai tulang bawang, Kalau bibir tergigit, sakit bukan kepalang," suara  nenek Aminah bernyanyi menambah keceriaan di panti ini ketika mentari mulai menampakan sinarnya. Bagi Yudi merawat para lansia adalah ibadah karena tidak perlu menunggu usia tua.

“Jadi beruntunglah bagi mereka yang masih memiliki orang tua karena masih bisa berbakti,”ujarnya.

Tak ada raut kesedihan yang terlihat dari para peghuni panti ini. Hanyalah senyuman dan ketegaran yang terpancar dari wajah yang semakin keriput. 

Rasa rindu akan hangatnya pelukan keluarga tampak sesekali muncul ketika menatap mata mereka. Seperti hangatnya mentari senja yang selalu dirindukan hadirnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar