Ketangguhan Daerah Menghadapi Situasi Pandemi Di Kalsel

Ilustrasi

KBRN, Banjarmasin : Pandemi dengan sangat nyata menyampaikan pesan yang sangat jelas tentang pentingnya peran dari pemimpin yang unggul di segala sektor kehidupan. Di desa, kota hingga negara, hanya itu yang diperlukan. Sementara daerah dan negara, sudahkah juga memperhatikan sinyal ini dan MEMBENAHI komposisi pemimpin? Bila belum, maka sangat dikhawatirkan kondisi pandemik ini sulit pulih dalam waktu dekat sebab super leader tidak memainkan perannya dengan baik karena SULIT muncul atau tidak diberi kesempatan untuk muncul di saat-saat genting kehidupan dan kemanusiaan.

Bukan sekedar sedih melihat penderitaan ekonomi dan fisik sekaligus batin (psikologis) dari  saudara-saudara kita sebangsa yang hampir secara merata merasakan gejolak kehidupan yang sulit dan terhimpit. Tingkat kemiskinan meningkat di desa dan kota diawali dengan indikasi berkurangnya lapangan kerja karena ditutup atau terpaksa menutup berbagai tempat usaha. Banyak karyawan yang kini menjadi mantan karyawan dengan tingkat ekonomi yang satu tingkat menurun dari asalnya. 

Semua sektor seakan sedang berbenah namun bukan berbenah untuk kemajuan namun membuat ancang-ancang untuk mundur dari percaturan ekonomi dalam negeri. Sepertinya tempat berpijak kita sebagai warga negara sedang menuju terperosok dan kita harus bisa cepat mencari alternatif untuk bertahan sementara dan kemudian lari kencang mencari jalan keluar dari segala ketidakpastian. 

Kondisi ini diperparah dengan tidak seiring sejalannya daerah dalam mengimplementasikan semangat keberlanjutan dalam setiap sektornya. Ada daerah yang benar-benar concern terhadap ini, namun ada juga yang karyanya seperti ragu dalam merubah perilaku dan pola kehidupan di era normal baru. 

Akibatnya, ada daerah yang siap siaga menghadapi pandemik ada juga daerah yang terkesan tetap dalam pola kehidupan normal, pola kehidupan yang seakan tidak berdampingan dengan Covid-19. Masih mengabaikan protokol kesehatan dan masih melakukan banyak pertemuan tatap muka. Last but not least, hal ini terjadi bukan karena daerah kekurangan stok orang pinter atau cerdik cendikia. Daerah punya stok ilmuan yang cukup terutama di bidang kesehatan, pendidikan dan lingkungan. 

Persoalannya adalah pada belenggu birokrasi dan hirarki yang tidak memberi kesempatan pada Super leader untuk tampil di panggung tolong menolong sesama. Akibatnya dapat dipastikan, sendi-sendi kehidupan menjadi tidak seimbang/pincang karena SDM unggul di daerah tidak dilibatkan atau sulit terlibat untuk membantu upaya pemerintah dalam mengantisipasi dan menanggulangi kebencanaan termasuk Covid-19. 

Berbicara tentang Kalsel, angka infected covid nya cukup tinggi saat ini. Tercatat pada Tanggal 4 Mei 2021, infected covid di Kalsel Mencapai 33.148 Orang, padahal pada Agustus 2020 angkanya baru mencapai 6.411 Orang dan pada tanggal 31 Desember 2020, tercatat 15.234 Orang. Itu berarti terjadi peningkatan yang cukup signifikan dalam 4 (empat) bulan terakhir ini. Satgas Covid Kalsel bukan tanpa upaya untuk menanganinya. 

Sangat banyak sekali upaya yang dilakukan, perjalanan dan perjuangan dalam tugas terkait penanganan covid tergambar dalam dokumentasi dan rekaman digital yang lengkap namun mengapa hal ini belum juga tertangani? Bila kita rangkum secara garis besar ada tiga hal yang melatarbelakangi mengapa covid Kalsel melaju dengan cepat dan sulit diantisipasi.

Sebab pertama adalah kelelahan warga di tahun kedua pandemik. Hal ini yang disampaikan dengan sangat jelas oleh Prof. Dr. Husaini, S.KM, M.Kes Pakar Kesehatan Masyarakat dari Universitas Lambung Mangkurat sebagai Pandemic Fatigue Syndrom yaitu Sindrom kelelahan warga akibat dari pandemik yang belum terlihat ujung pangkalnya kapan hal ini berakhir. 

Bahkan di sebagian masyarakat masih ada pandangan yang kontroversi dan menganggap bahwa virus ini hanyalah komoditas politik bukan virus yang nyata. Gaya hidup dan pola pikir masyarakat belum terbentuk taat prokes, masih ada kebimbangan untuk melakukannya karena mereka melihat kebanyakan yang meninggal akibat covid lebih disebabkan oleh penyakit penyertanya bukan karena covidnya. Inilah salah satu sebab utama dari terus meningkatnya wabah pandemik di Kalimantan Selatan.

Sebab kedua adalah kurangnya terbangun hubungan yang dekat antara warga dengan pemerintah daerahnya. Mungkin tidak untuk semuanya, namun hal ini terjadi. Masih ada gap antara pejabat publik dengan warganya.

Ada rantai komunikasi yang terputus disaat warga diposisikan hanya sebagai warga dan pejabat publik diposisikan hanya sebagai pemimpin. Mungkin kita bisa melihat contoh keteladan pemimpin dari Jawa Tengah, beliau berwibawa dengan kejelasan kedudukan antara beliau dan warga namun ada sense of humanity yang melekat padanya sehingga warga merasa dekat secara hati dan pemikiran dengan pemimpinnya. Ini sangat bagus, sebuah simbiosis dalam komunikasi sangat penting. 

Bila warga merasa dekat dengan pemimpinnya maka petuah pemimpin pasti dilaksanakan dengan suka rela. Ini yang belum terbentuk di Kalsel. Pola kepemimpinan dari hati sangat penting di saat kondisi sulit seperti ini. Harus bisa melihat kondisi masyarakat secara keseluruhan dan mencoba memahami kesulitannya, mencoba membantunya dengan langkah-langkah kebijakan yang berpihak pada kaum lemah adalah sangat berarti dan menjadi jembatan untuk suksesnya program pemerintah termasuk program penanganan Covid-19 di daerah.

Sebab ketiga adalah kurang dilibatkannya para Super Leader (pemimpin sejati) dari setiap level untuk berkontribusi secara aktif dan positif dalam penanganan Covid-19. Satgas hanya terdiri dari pimpinan puncak yang sudah pasti penuh dengan jadwal dan tugas rutin sehingga sulit untuk membagi waktu dengan tugas tambahan tentang pengendalian dan pencegahan Covid-19. 

Bilapun bisa, konsentrasinya pasti terbelah dengan tugas pokoknya. Hal ini membuat pengambilan keputusan bisa menjadi bias atau lambat. Sebaiknya pemimpin puncak memainkan peran sebagai pengawas saja agar fungsi controllingnya bisa jalan. 

Sedangkan untuk Satgas, tugas bisa dikoordinasikan dengan mereka yang memang capable dan siap untuk menjadi relawan penanganan wabah. Tidak mesti dari Dinas Kesehatan, bisa melibatkan lintas sektor dan pastinya bekerjasama dengan perguruan tinggi setempat sebagai penyeimbang kebijakan. Penanganan covid tidak sama dengan penangan penyakit menular lainnya. 

Covid ini kompleks karena kehadirannya secara langsung mengakibatkan gangguan pada sektor ekonomi, sosial dan budaya. Penangan covid bukan tugas tambahan namun tugas utama. Jadi sebaiknya Tim Satgas penanganan Covid adalah tim baru yang memang dibuat khusus untuk menangani covid. Sangat banyak Super Leader di daerah yang bisa difungsikan untuk ini karena Kalsel dan Kabupaten/Kota disekelilingnya tidak kekurangan stok Super Leader.

Ketiga rangkaian fenomena ini membuat kita memahami mengapa penanganan covid di suatu daerah bisa lancar, mengapa juga bisa tersendat. Sumber Daya Manusia berperan penting didalamnya. Information Technology hanyalah Decision Support System, hanya membantu pengambilan keputusan. Keputusan tetap ditangan Man Power. Seefektif apapun sistem bila kita tidak memberdayakan SDM dengan baik dan tepat maka sistem tidak akan berfungsi maksimal, bahkan optimalpun tidak. 

Kita harus memahami bahwa pandemik adalah kenyataan sulit yang harus kita hadapi bersama. Pandemik bukan banjir yang datang hilang silih berganti, Pandemik adalah datang hilang, hilang dan hilang lagi saudara-saudara kita akibat menjadi korbannya. Hingga hari ini per tanggal 4 Mei 2021, tercatat 956 korban meninggal akibat covid-19 di Kalsel. 

Itu yang tercatat, mungkin dalam kenyataannya ada juga yang tidak sempat tercatat oleh Tim Satgas karena banyak pertanyaan dan kekhawatiran tentang jumlah tercatat ini. Anggaplah mendekati 1000 korbannya itu berarti sudah sebanyak itu saudara, kenalan dan kerabat kita yang meninggal akibat pandemik covid.

Selain ketiga hal itu, yang saya amati dari  Kalsel adalah belum sinerginya strategic partnership dalam upaya pembangunan berkelanjutan yang sinergi baik antara multi sektor maupun multi stakeholder. Hampir semua sektor masih berjalan secara parsial. Yang sinergi belum banyak. 

Ada sifat down to earth yang kurang terlihat disini. Hidup di satu bumi yang sama dan menjalani kesulitan yang sama dalam langkah-langkah yang sama menuju target yang sama, itu belum terlihat disini. Yang ada, satu ke utara satu ke selatan sehingga kemajuan Kalsel sebagai sebuah daerah dengan potensi SDA yang besar sulit diraih dalam waktu cepat apalagi dengan hambatan pandemik. 

Situasi seperti ini membentuk dinding dinding birokrasi yang rawan konflik. Karenanya program dan kegiatan tidak bisa dilaksanakan secara lancar dan kurang memenuhi target. Berbeda dengan di daerah lain yang semua komponennya dapat maju dan berkiprah secara bersama dan berpadu dengan landasan Persatuan Indonesia. Jawa Barat adalah contohnya. 

Semua komponen masyarakat diminta ikut berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Sektor perbankan diminta untuk membuat tema lingkungan di taman-taman kota, anak muda menikmati suasana taman kota yang asri sebagai dampak dari kolaborasi pemerintah dengan sektor perbankan. Kemudian lebih jauhnya lagi taman ini juga berfungsi untuk ruang terbuka hijau yang secara otomatis kehadirannya bisa menurunkan tingkat emisi di dalam kota. 

Begitu terus sehingga terjalin siklus circular economy yang membuat semua sistem dan semua stakeholder akhirnya terhubung dan melakukan tugas bersama sesuai dengan prinsip SDGs-17 yakni Partnership for the goals.

Sinergi lintas sektor sangat diperlukan di Kalsel utamanya di masa pandemik covid 19. Hal ini yang sepertinya belum terpikirkan dengan serius oleh para pemangku kepentingan dikarenakan banyaknya tugas administrasi dan rutinitas di dalam birokrasi sehingga agak sulit untuk mencapai kesepakatan dalam waktu yang cepat. Sebenarnya pandemik memiliki pesan sendiri untuk jajaran birokrasi dan stakeholder pada umumnya. 

Pesannya adalah agar kita segera mempersiapkan metode dan cara kerja yang praktis, ringkas, memangkas waktu namun terjaga validitas dari hasil pekerjaan kita dimana tidak bisa lagi menggunakan layanan birokrasi berjenjang yang memakan waktu dan padat aktifitas. Itu tidak cocok lagi sekarang. Harus dibuat se-efektif mungkin sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kesempurnaan sistem pemerintahan itu sendiri. Intinya pandemik mengajarkan kita tentang perubahan hidup. 

Kita harus cepat beradaptasi dengan perubahan itu untuk kemudian bisa melangkah di kehidupan normal baru, berdampingan dengan covid 19 dalam keseharian kita namun dengan gaya hidup dan gaya kerja yang mampu menangkal kehadiran covid itu sendiri. Istilahnya mampu melihat gerak bayangan dan mampu menghindarinya dengan baik.

Banyak yang harus berubah atau terpaksa harus dirubah di era kehidupan baru agar normal seperti biasa (normal baru). Kondisi ini pun tidak akan berlangsung pendek, kemungkinan akan berlangsung panjang. Kita dan masker, kita dan social distancing, kita dan keterbatasan silaturrahim, kita dan kedekatan secara digital akan menjadi fenomena biasa dan akan terus terjadi dan dijalani. 

Dalam perikehidupan kita ada pola pemisah yang sudah nyata, baik itu berupa masker pada wajah ataupun pola kedekatan sosial dalam bentuk kontak fisik yang sangat jauh berkurang. Sisi praktisnya adalah efisiensi pada jejak karbon dikarenakan aktifitas yang hanya dirumah saja dan tak banyak menggunakan bahan bakar fosil namun sisi rumitnya adalah merubah kebiasaan dalam banyak hal. Fokus utamanya adalah terbantunya gerak mobile manusia dengan kehadiran IT yang secara langsung mampu memangkas waktu dengan proses berpikir mesin yang cukup singkat. 

Namun ada unsur yang berkurang yakni peran manusia dalam pengambilan keputusan karena banyak hal telah diambil alih oleh mesin terutama dalam hal diagnostik dan pengendali support system. 

Jadi siapa yang tangguh? Covidkah atau Kita? Pasti jawabnya adalah kita, jika dan hanya jika, kita menyadari sepenuhnya bahwa Pandemik hanya bisa dilawan dengan Persatuan Semangat dan Karya dalam bentuk adaptasi kebiasaan baru yang dipahami bersama sebagai langkah tepat untuk menjaga diri dan sesama. Salam Tangguh. (DR. LYTA PERMATASARI (Birokrat dan Akademisi, Climate Reality Leader Associate Writer Birokrat Menulis)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar