Dalam Sepi Ardani Menyemai Kopi

KBRN, Kotabaru : Hujan yang mengguyur Kotabaru sejak subuh masih menyisakan rintik kecil pagi itu.

Dengan menenteng sebilah parang, Ardani (50) melangkah menuju kebun kopinya yang tak jauh dari Tugu Kepiting, Desa Sigam.

Tiba di lahan seluas kira-kira 4 Ha itu, seperti biasa ia mengecek pohon-pohon kopi yang tingginya sudah melebihi kepalanya. 

Pohon-pohon kopi berumur sekitar 3,5 tahun itu rata-rata sudah berbuah, ada yang hijau dan ada juga yang merah. 

"Ini kesuburan daun, jadi kurang buahnya," ujar Ardani sembari memetiki daun-daun pada beberapa pohon yang terlalu rimbun.

Sesekali ia menebaskan parang untuk membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sela-sela pohon. 

Setiap hari rutinitas ini dilakoni Ardani seorang diri. Pria yang sehari-hari bertani sayur ini mengaku awalnya hanya coba-coba membudidayakan kopi.

Selama ini belum terdengar ada petani kopi di Kotabaru. Hal itu mendorong Ardani untuk menjadi yang pertama. 

Dalam sepi, ia menyemai bibit kopi dan sempat gagal pada awalnya karena serangan hama. Namun ia tak menyerah dan akhirnya berhasil setelah dua kali mencoba. 

"Aturannya kan kalau dataran rendah kurang bagus, tapi ternyata bagus saja," katanya.

Menurut Ardani, menanam kopi relatif mudah. Selain itu, kopi memiliki pangsa pasar yang luas dan harga jualnya juga cukup baik. 

Kini, kopi yang ditanam Ardani sudah siap untuk dipanen. Hanya saja, ia tak tahu hasil panennya harus diapakan. 

"Belum ada rencana bagaimana kedepannya, saya hanya berharap setelah orang tahu di sini ada kopi mungkin berminat membeli," ucapnya. 

Di sisi lain, Ardani juga berharap kebun kopinya akan dilirik oleh instansi pemerintah yang terkait. 

Ia ingin ada pembinaan agar bisa memperbaiki teknik budidaya yang selama ini hanya dipelajarinya secara otodidak. 

"Saya ingin mengembangkan cara pengelolaan yang lebih baik supaya kopi di sini bisa bersaing dengan yang lain," katanya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar