Apam Paranggi Kue Tradisional Bertahan di Masa Pandemi

Kue Apam Paranggi

KBRN, Banjarmasin : Apam Paranggi, menu kue khas warga Banjar ini merupakan wadai (kue.red) warisan leluhur dibuat turun temurun, setidaknya sudah cukup lama di kenal dalam berbagai macam jenis kue kue Banjar, salah satunya selalu disebut ada Apam Paranggi.

Kalau lagi kangen untuk menikmati kue ini ada beberapa titik tempat penjualan wadai ini, seperti di Teluk Dalam, Kelayan, Sungai Jingah, Sungai andai. Ciri khas kue ini dibakar di tempat sehingga kita pun bisa menyaksikan Bagaimana pembuatannya dan kesabaran menuggu kue ini hingga matang.

Adonan kue bahan pokoknya adalah tepung beras, dicampur gula bisa gula putih dan gula merah atau gula aren, kalau menggunakan gula putih maka adonannya berwarna putih jika menggunakan adonan gula merah maka tampak terlihat merah, hasilnya pun ketika kue ini matang juga menggambarkan gula apa yang digunakan, jika menggunakan gula aren maka kuenya tampak kemerah-merahan seperti itu gula aren.

Adonan dimasukkan ke dalam tuangan pembakaran yang terbuat dari logam, kemudian di atasnya ditutup dengan tudung khusus terbuat dari tanah liat yang di keringkan, orang Banjar mengenalnya sebagai bahan untuk membuat dapur masak tradisional, tudung itupun harus dipanaskan terlebih dahulu di atas api kompor gas, setelah cukup panas baru digunakan untuk menutup tuangan yang sudah  diisi adonan, sedang dipanaskan di atas api kompor pula.

"Dulu untuk membuat adonan kami menumbuk sendiri beras sampai menjadi tepung beras, tetapi sekarang sudah ada orang yang memberikan jasa penggilingan beras hingga menjadi tepung beras," jelas Oji penjual Apam Paranggi di Jalan Sultan Adam Kelurahan Sungai Jingah Banjarmasin.

Oji mengaku sudah lebih dari 10 tahun melakoni usaha menjual kue Banjar ini terutama yang menjadi andalan adalah Apam Paranggi, memang selain Apam Paranggi dia juga membuat yang lain seperti bingka kentang, roti pisang dan kue untuk-untuk.

Sehari tak kurang 500 biji - 700 biji kue terjual harganya pun terjangkau hanya Rp1.000 per biji, ada pembeli yang akan mengecer lagi, ada juga pembeli dari rumah tangga yang memang khusus untuk langsung dikonsumsi pagi-pagi hari.

"Penjualan tak terdampak masa pandemi ataupun yang lain, karena umumnya wadai (kue.red) ini kebanyakan dibawa pulang untuk dinikmati," tambah Oji.

Soal rasa tentunya legit, pas dilidah, faktanya semua kue yang dibakar di tempat penjualan Apam Paranggi Oji setiap hari ludes terjual, tampak beberapa mobil menunggu pesanan karena mau dibawa keluar daerah, tak ketinggalan jamaah dari beberapa masjid yang ada di kawasan itu mampir untuk sekedar 5 atau 10 biji kue untuk teman ngopi di rumah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar