Peningkatan Kualitas Beriringan Dengan Kepedulian Hasilkan Kinerja Maksimal Pertamina

Photo : RRI Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin  :  Berbagai komitmen dalam keberlanjutan yang selaras dengan pergerakan global, menjadi perhatian Jajaran Pertamina untuk menjadi Perusahaan Energi Global,yang menciptakan nilai dan komitmen dalam keberlanjutan jangka panjang.

Nampaknya pesan Nicke Widyawati,  Sang Direktur Utama Pertamina, menjadi perhatian para rekanan Pertamina, untuk menerapkan bagian sifat pelayanan, kepedulian, pengabdian, kontribusi perusahaan, keterbukaan dan transparansi atas kemajuan di bidang energi, CSR, Pemberdayaan Masyarakat, dan Program Mitra binaan untuk UMKM, yang dilakukan Jajaran Perusahaan ini. Hal ini seperti yang saya alami dan rasakan berikut ini.

Seperti biasa, jika kita masuk ke area Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), kita selalu disambut ramah oleh para petugas berbaju warna merah dengan logo Pertamina, dan menanyakan apa bahan bakar yang kita perlukan.

Setelah kita sebutkan. Maka petugas segera menekan tombol digital untuk sejumlah bahan bakar yang kita beli dan mereka selalu menyebutkan : Dimulai dengan Nol. Sembari telunjuknya ke arah angka nol di tombol layanan tersebut. 

Kemudian bahan bakar mengalir masuk ke tangki pengendara dengan urutan-urutannya hingga pas, sesuai dengan slogan Pasti Pas! Sehingga membuat pembeli merasa nyaman dan aman menggunakan sarana tersebut.

Untuk Banjarmasin yang relegius, umumnya petugas menyebutkan kata akad jual beli, dengan berkata : Jual-lah. Lalu si Pembeli menyahut dengan kata : Tukar-lah.

Terkait hal layanan ini, keperluan masyarakat yang bukan pembeli, juga menjadi perhatian Pertamina dengan memperhatikan Toilet dan Mushalla SPBU yang saya pantau di Banjarmasin, sangat bersih dan sangat nyaman.

Bahkan di area toilet itu, selalu tertulis toilet bersih 135. Artinya segala keluhan dapat disampaikan melalui jalur tersebut, walaupun keluhan itu tidak langsung membeli produk Pertamina di SPBU, hanya mereka menggunakan toilet maupun mushalla SPBU yang sudah distandarisasi oleh pihak Pertamina.

Dengan media sosial yang dapat disampaikan masyarakat ke Pertamina, melalui keluhan call 135 tersebut, juga dapat melalui facebook, twitter, Instagram, youtube dan website. 

Saya sempat baca keluhan Mohammad Sonhaji dengan twitternya@spnhaji, yang mengeluhkan toilet gratis, tetapi ada petugas yang membuatnya membayar kepada petugas tersebut. 

Namun segera dibalas juga melalui twitter Pertamina yang memberikan jawaban bahwa ada pemilik SPBU yang menggunakan jasa pihak ketiga yang menjaga kebersihan dan kenyamanan pengguna toilet, sehingga sifatnya keberadaan petugas itu hanyalah untuk melaksanakan hal-hal tersebut dan otomatis pembayaran toilet bersifat sukarela.

Dalam hal kenyamanan dan keamanan di jalan raya, Pertamina untuk hal ini saya lihat juga sangat memperhatikannya. Hal ini terkait dengan blind spot yang tertulis di mobil besar pengangkut bahan bakar gas.  

Perhatikan, ada yang menarik yang terlihat di banyak jalan di Banjarmasin yang dilalui mobil-mobil pengangkut bahan bakar gas berlogo Pertamina dengan mobil besar tersebut. Di belakang mobil ini dituliskan kata : Blind Spot. Awas! Anda tidak terlihat oleh sopir. Segera menjauh.

Ini memang sangat menarik dan merupakan salah satu upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas yang dilakukan Jajaran Pertamina, sebagai bagian dari kepedulian tersebut. 

Seperti kita tahu, blind spot adalah area tidak terlihat atau titik buta. Maksud blind spot dalam konteks berkendara ialah area yang tidak terlihat oleh pengendara mobil atau motor. Blind spot merupakan salah satu faktor dominan penyebab terjadinya kecelakaan. Saat ini masih banyak pengendara yang belum memahami bagaimana cara mengatasi blind spot.

Menurut beberapa ahli, blind spot tidak bisa dihilangkan, namun dapat diminimalisir. Penyebab terjadinya blind spot bisa dari beberapa faktor. Diantaranya yakni konstruksi kendaraan. 

Semakin besar ukuran kendaraan, semakin besar pula blind spotnya. Untuk jenisnya sendiri, kendaraan jenis truck adalah yang paling banyak blind spotnya. 

Tidak hanya itu, faktor keadaan lingkungan sekitar yang dilalui, juga dapat menjadi faktor terjadinya blind spot. Contohnya seperti persimpangan, tikungan, area padat bangunan, area berbukit, area berdebu dan kendaraan yang melakukan parkir sembarangan di jalan.

Sehubungan blind spot ini, pengguna jalan Muhammad Imam Muttaqin, juga merasa sangat berterimakasih dengan kepedulian tersebut, sehingga dirinya semakin waspada jika berada di belakang mobil besar.

“Dengan adanya mobil bermuatan besar yang ada tulisan himbauan kepada masyarakat untuk berhati-hati kepada pengguna jalan, yang ada di belakang mobil tersebut,  kiranya kita sebagai pengguna jalan yang memakai kendaraan atau mobil, tentunya kita harus berhati-hati juga. 

Semoga dengan adanya himbauan tulisan itu, kita bisa terbantu untuk menjaga keselamatan kita selama di jalan. Jadi dengan adanya tulisan itu, mudah-mudahan kita sebagai pengguna jalan, senantiasa untuk selalu berhati-hati, agar tidak terjadi kecelakaan,” ungkap Imam.

Imam yang juga Pengurus Panti Asuhan, tepatnya Sekretaris Panti Asuhan Hikmah Zam-zam, yang memiliki banyak anak asuh, juga selalu memberikan nasehat kepada para anak asuhnya untuk berhati-hati di jalan.

“Sebagai Pengurus Panti yang juga mengayomi anak-anak yang ada di Panti Asuhan, ketika anak pergi ke sekolah, menggunakan jalan raya. Tentunya kita selaku Pengasuh mengintruksikan kepada anak-anak, untuk pertama berhati-hati dan bisa melihat kiri-kanan sebelum menyeberang. Atau berhati-hati juga selama di jalan, agar keselamatan lebih kita utamakan buat anak-anak,” Imam menegaskan.

Dalam hal layanan yang diberikan, sangat terlihat apa yang dilakukan para pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Kota Banjarmasin yang relegius. 

Menjelang shalat Jum’at atau menjelang Magrib, biasanya beberapa menit sebelumnya, SPBU tutup dan akan buka kembali setelah selesai shalat magrib, seperti yang saya saksikan di SPBU Sultan Adam Banjarmasin, Jum’at (29/10/2021). 

Karena bahan bakar seperti pertalite dan pertamax yang masih ada dan masyarakat masih memerlukannya, maka usai shalat magrib, para petugas kembali melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sehingga para petugas ini kalau saya perhatikan, seperti petugas SPBU Sultan Adam Banjarmasin, ada rumah bedakan tidak jauh dari SPBU tersebut, sehingga para petugas dapat datang lebih cepat ke SPBU ataupun jika beristirahat, maka mereka dapat juga lebih cepat kembali ke SPBU setelah masa istirahat habis. 

Kecepatan dan ketepatan waktu pelayanan ini, membuktikan juga perhatian yang serius dari pihak Pertamina untuk memberikan penekanan penting kepada pemilik SPBU dalam hal peningkatan kualitas pelayanannya kepada masyarakat luas.  

Bahkan dalam sebuah pertanyaan yang saya sampaikan kepada masyarakat, jika ikut antri di SPBU dan sudah masuk di area tersebut, ternyata tiba di depan sudah habis bahan bakar yang diperlukan, juga tidak membuat mereka kecewa, karena umumnya mereka sudah mengetahui keterbatasan kouta bahan bakar minyak yang didapat sebuah SPBU.

Pemberitahuan bahwa bahan bakar tertentu, seperti belum datangnya bahan bakar dari Pertamina ke SPBU, juga diinformasikan di depan pagar masuk SPBU dan tertulis cukup besar, sehingga dari kejauhan, masyarakat yang hendak mampir ke SPBU, sudah mengetahui kondisi hal ini, dan mereka tidak terbuang waktunya berbelok ke SPBU yang bahan bakar yang mereka perlukan saat itu sedang habis.

Demikian juga jika masih dalam kegiatan pengisian bahan bakar, pihak pemilik SPBU segera memerintahkan kepada para karyawannya untuk menuliskan informasi di depan pagar pintu masuk SPBU, bahwa bahan bakar yang bersangkutan sedang dilakukan pengisiannya di SPBU tersebut.

Untuk catatan saya, terkait pertalite seharga premium, juga saya rasakan sebagai sebuah upaya kepedulian memperbaiki lingkungan hidup kita.

Pertalite seharga premium, semakin memberikan keringanan kepada masyarakat Kota Banjarmasin khususnya. Karena program yang dilaksanakan sejak beberapa waktu lalu, dan pada tanggal 5 April 2021 dari Jajaran Pertamina telah beraudiensi dengan Pemerintah Kota Banjarmasin untuk Program Langit Biru tersebut, membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19, yang semakin sulit dalam memperoleh uang.

Seperti kita ketahui, memang Program Langit Biru (PLB) Pertamina turut mendukung program pemerintah guna pengendalian pencemaran udara. PLB menyasar kepada para pengendara kendaraan roda 2 atau roda 3 dan kendaraan umum dengan plat kuning.

Dimana dapat merasakan Pertalite Harga Khusus, pembelian Pertalite lebih hemat seharga Premium yaitu Rp 6.450/liter. 

Ada terdapat 16 SPBU di Kota Banjarmasin yang berpartisipasi pada Program Pertalite Khusus ini.

“Alhamdulillah Pemkot memberikan sambutan hangat dan dukungannya atas program untuk mengurangi polusi udara ini,” ujar Sales Area Manager Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Drestanto Nandiwardhana, saat itu (5/4/2021).

Kepedulian dan perhatian yang baik dan diiringi juga dengan ketegasan yang dilakukan oleh pihak Pertamina dalam pelayanannya, membuat masyarakat menjadi semakin berupaya mematuhi apa yang ditentukan.

Seperti yang banyak terjadi sejak sore hingga malam hari di beberapa SPBU di Banjarmasin, para pengantri solar bersubsidi, baik mobil box, pick-up hingga mobil truk yang antri di tepi-tepi jalan, mereka diatur para petugas SPBU untuk tidak menutup jalan umum ke luar masuk sebuah kantor, instansi, dinas dan bahkan rumah masyarakat. 

Sehingga dengan pengaturan itu, tentunya kenyamanan dan keamanan di jalan semakin dirasakan. Hanya saja memang di satu pagi, saya dan istri yang kebetulan lewat di Jalan Sultan Adam, agak kaget, karena antrian menunggu solar bersubsidi sudah dilakukan di pagi hari sebelum pukul 08.00 pagi, yang mana ini memang saat masih jam sibuk, saat para orangtua mengantar anaknya ke sekolah yang sudah melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka terbatas, kegiatan kuliah yang sebagian sudah tatap muka, hingga kegiatan karyawan dan masyarakat umum lainnya. 

Sehingga tercetus dari harapan kami, “Sebaiknya jangan terlalu pagi antri solar bersubsidi.”

Keperluan solar bersubsidi untuk jumlah solar yang banyak, juga diarahkan untuk menggunakan solar non subsidi, dan pelayanan non subsidi ini memang lebih cepat dan itu juga menjadi pertimbangan masyarakat yang memerlukannya. 

Seperti yang sempat saya tanyakan dengan seorang Satpam di Komplek SMP Muhammadiyah 3 Banjarmasin dan SMK Muhammadiyah 2 Banjarmasin, beberapa hari yang lalu, kata Satpam : “Kami menggunakan solar non subsidi pak. Jadi kami lebih cepat mendapatkannya. Karena genset kami 25 liter pak.” 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar