Ibu ibu Penggerak Kampung Iklim

KBRN, Banjarmasin : Terlihat ibu-ibu bergerombol di sudut kampung, sedang apa. Mereka sedang mengaduk aduk tanah, ya tanah hitam, pupuk kompos, sekam, dengan menggunakan peralatan pisau, cetok semen, garu, memasukkan bahan tersebut setelah di campur ke dalam pot bunga dan polibag.

Menanam dan menanam, itulah yang dikerjakan ibu ibu, Acil, julak, apa yang di tanam, tanaman peneduh menjadi prioritas untuk menjadikan kampung nya hijau dan teduh. Apalagi yang di tanam, bunga-bunga perdu, selalu di tanam, jauh sebelum demam tanaman bunga merebak di Kalsel dan di Banjarmasin khususnya.

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari hari menanam di kampung iklim komplek Haji Idris Kelurahan Sungai Miai Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin.

" Ada 12 orang ibu ibu yang aktif, melakukan berbagai aktivitas seperti menanam pohon menanam sayur menanam bunga pelihara ikan dan kegiatan lain terkait kampung iklim," kata Agusliana ketua Kampung Iklim Sungai ini.

Ibu ibu tersebut merupakan penggerak kegiatan kampung iklim yang sudah dirintis sejak tahun 2006, namun secara formal keberadaan kampung iklim ini mendapat SK dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin pada tahun 2018. 

Berada di kampung ini memang terasa nyaman, tanaman peneduh, tanaman perdu, bunga bunga , lukisan tiga dimensi di setiap jalan dan gang, terlihat bangunan untuk posyandu serta kebun hidroponik

Program Kampung Iklim (ProKlim) adalah program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lain untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi GRK serta memberikan pengakuan terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilakukan yang dapat meningkatkan kesejahteraan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.

Pelaksanaan Proklim mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 84 tahun 2016 tentang Program Kampung Iklim, dimana di dalamnya terkandung komponen utama, syarat pengusulan, penilaian dan kategori Proklim. Dalam pertauran menteri tersebut juga disinggung bahwa ProKlim dapat dikembangkan dan dilaksanakan pada wilayah administratif paling rendah setingkat RW atau dusun dan paling tinggi setingkat kelurahan atau desa.

Menurut Agusliana, di kampung iklim yang di pimpinnya dua kegiatan terkait perubahan iklim ini meliputi adaptasi iklim dan mitigasi dilaksanakan dalam bentuk kegiatan yang dilaksanakan bersama masyarakat.

Dalam program adaptasi perubahan iklim yaitu pengendalian kekeringan, Banjir dan Longsor, berupa kegiatan penanaman pohon dan penghijauan kawasan, Peningkatan Ketahanan Pangan.

"Penghijauan merupakan kegiatan yang terus menerus dilakukan, untuk ketahanan pangan, kami punya kebun bibit dan sayuran hidroponik," jelas Agusliana.

Sementara untuk program mitigasi perubahan iklim dilakukan dengan berbagai kegiatan, seperti pengelolaan sampah, pemilahan sampah dan kegiatan bank sampah, selain itu juga kegiatan urban farming yaitu model pertanian rendah emisi sehingga bisa mengantisipasi perubahan iklim.

Terkait dengan ancaman penyakit yang diakibatkan perubahan iklim dengan berbagai kegiatan meningkatkan kebugaran masyarakat dengan senam bersama ditambah lagi dengan aktivitas posyandu yang selalu memantau kondisi kesehatan masyarakat di mana Di kampung ini juga sangat kuat diaplikasikan pola hidup bersih dan sehat ( PHBS) apalagi di masa pandemi sekarang ini Agusliana dan ibu di komplek ini melakukan sosialisasi disiplin protokol kesehatan langkah pencegahan covid 19.

Prestasi pun sudah diraih oleh Kampung iklim ini pada tahun 2019 mendapatkan penghargaan Kampung iklim madya kemudian tahun 2020 mendapatkan penghargaan Kampung iklim Pratama.

Selain mendapatkan trofi penghargaan tetapi juga disertai dengan uang pembinaan sehingga dengan uang pembinaan inilah beberapa program baru bisa di laksanakan, semua bisa terlaksana karena semangat gotong royong dan keswadayaan masyarakat.

Ketua RT 50 Kelurahan Sungai Miai yang menjadi pusat kegiatan Kampung iklim ini selalu mendukung aktivitas yang dilakukan oleh ibu-ibu di kawasan RT nya. "Ibu ibu di komplek ini sangat antusias untuk mewujudkan kampung yang hijau bersih mengolah sampah dengan baik dan menghasilkan sayur-sayuran di pekarangan sendiri," kata Muslim ketua RT 50 Komplek H Ideris Kelurahan Sungai Miai Banjarmasin.

Semangat gotong-royong ini terus bisa terjaga sehingga Kampung ini pun bisa mewujudkan Kampung bebas asap rokok atau rumah bebas asap rokok (rumbar) sehingga dapat mewujudkan Kelurahan sehat sebagai bagian dari program kota sehat di Banjarmasin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar