Hampir Dua tahun Menahan Sakit Akibat Kecelakaan, Gadis di Banjarmasin Hanya Bisa Tunggu Uluran Tangan Dermawan

Istimewa

KBRN, Banjarmasin: Gadis 17 tahun bernama Nurul Hasanah yang tinggal di Jalan Kenari 1, RT 08, RW 09, Nomor 12, Kelurahan Basirih Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan, hanya bisa menahan rasa sakit yang dialaminya akibat kecelakaan.

Saat ini dia diketahui tercatat sebagai salah satu siswi kelas XII di SMA Muhammadiyah 2 Banjarmasin. Sedangkan saat peristiwa kecelakaan itu terjadi, Nurul diketahui duduk di bangku kelas XI.

Nurul mengalami patah di lengan dan paha sebelah kanan. Kecelakaan itu membuatnya tak bisa lagi leluasa beraktifitas. Untuk berdiri saja, dia sangat kesulitan. Apa lagi untuk bisa berjalan atau pergi ke sekolah.

Syukurlah, pihak sekolah masih memperkenankan Nurul untuk bisa mengikuti pembelajaran, meskipun secara daring (dalam jaringan) alias online.

Di kediamannya, Nurul tinggal bersama ayah dan kakak kandungnya, Miftahul Jannah. Lantaran tidak bisa berjalan, hari-hari Nurul lebih banyak dihabiskan berada di kamarnya.

Untuk keperluan sehari-hari, sang kakak, Miftahul Jannah lah yang membantu mengurusnya. Ambil contoh, saat mengikuti pelajaran secara daring kemarin. Begitu pula keperluan mandi cuci kakus (MCK).

"Untuk tugas sekolah, biasanya saya yang mencatatkannya," jelas Miftahul Jannah.

"Di bagian lengan ini masih berasa cenat-cenut. Sakit sekali. Termasuk di bagian paha kaki. Dan memang tak bisa berjalan," timpal Nurul, lirih.

Sedangkan sang ayah, diketahui bekerja mencari nafkah. Menjajakan perabotan dapur (berupa pisau) dari pasar ke pasar. Dari keterangan Miftah (sapaan akrab Miftahul Jannah), sang ayah baru pulang ke rumah sekitar jam 2 siang.

Kecelakaan yang terjadi di tahun 2020 itu membuat Nurul Hasanah tak sadarkan diri. Alhasil lengan dan paha kanannya patah. Perempuan 17 tahun itu kini hanya bisa menanti uluran tangan dermawan untuk biaya kesembuhannya.

Miftah menceritakan, insiden kecelakaan itu bermula pada suatu malam, tepat di tanggal 17 Agustus. Saat itu, perempuan kelahiran 4 Mei 2004 itu berkendara dengan seorang kakak sepupunya. Keduanya, berniat untuk sekadar jalan-jalan.

Ketika melintas di kawasan Jalan Handil Bakti, sepeda motor yang ditumpangi keduanya bertabrakan dengan seorang pengguna jalan lainnya. Yang juga mengendarai sepeda motor.

Baik Nurul, yang saat itu berada pada posisi dibonceng, pun dengan kakak sepupunya lantas terpelanting. Keduanya pun diketahui langsung tak sadarkan diri.

Keduanya lalu dibawa ke rumah sakit terdekat yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ansari Saleh. Sayang, belum sempat menjalani perawatan, nyawa kakak sepupu Nurul tak dapat tertolong. Sedangkan Nurul, diketahui masih bisa selamat. 

Kendati demikian, Nurul masih harus menanggung perih. Lengan dan paha sebelah kanannya diketahui patah.

Lantas, apakah bekas kecelakaan yang diderita Nurul pernah diobati? Dituturkan Miftah, hingga saat ini imbas dari kecelakaan itu belum bisa diobati. Upaya pengobatan alias pemulihan yang pernah ditempuh, hanya melalui jasa tukang urut.

"Seingat saya sudah berkali-kali diurut, tapi belum ada perkembangan," tutur Miftah.

"Kami sempat bertanya kepada pihak rumah sakit terkait pengobatan yang mesti ditempuh. Kata pihak rumah sakit, mesti dioperasi. Dan biayanya Rp80 juta," jelas perempuan 18 tahun itu.

Ketiadaan biaya itulah, menurut Miftah, yang membuat adiknya terpaksa hanya mendapatkan perawatan biasa. Saat kecelakaan pun, pihaknya juga tak bisa berbuat banyak.

"Berada di rumah sakit hanya satu hari. Tidak sempat dirontgen, langsung dibawa pulang. Tapi, sudah dikasih tahu bahwa lengan dan paha kaki saya ini patah," tutur Nurul.

"Ingin meminta pertanggung jawaban ke si penabrak, rupanya kondisinya juga sama seperti kami. Orang tak mampu juga," timpal Miftah.

"Tapi yang kami tahu, si penabrak, hanya mengalami luka lecet biasa," tambahnya.

Lalu, apakah Ketua RT di tempat tinggalnya mengetahui kondisi tersebut? Miftah mengaku belum. Pasalnya, dia beserta keluarganya adalah penduduk baru di Jalan Kenari 1.

"Kami awalnya tinggal di Kampung Melayu. Baru beberapa bulan yang lalu pindah ke sini," ucapnya.

Kini, Miftah berharap ada dermawan yang bersedia membantu pengobatan adiknya. Sementara sang adik, Nurul pun tentu berharap bisa sembuh seperti sedia kala.

"Kalau ada rezekinya, saya sangat ingin dioperasi," pungkas Nurul.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar