Masjid Baangkat Hulu Sungai Utara, Arsitektur Bernilai Seni Tinggi dan Sarat Makna

KBRN, Hulu Sungai Selatan : Masjid Su’ada atau dikenal dengan sebutan Masjid Baangkat merupakan salah satu masjid masjid tua, punya sejarah tersendiri.

Masjid ini terletak di Desa Wasah Hilir, Kecamatan Simpur, sekitar tujuh kilometer dari Kandangan, ibu kota Kabupaten HSS.

Melihat bangunan masjid yang dibangun pada tahun 1908 ini, sunguh menakjubkan. Arsitekturnya, bernilai seni tinggi.

Berbeda dengan masjid pada umumnya atau masjid zaman sekarang yang bergaya modern, Masjid Su’ada mempertahankan bangunan klasiknya. Bahkan, 100 persen bahan bangunannya dari kayu berkualitas, yaitu kayu ulin dengan ukiran-ukiran, di bagian pagar teras.

Berikut sejarah Masjid Su'ada atau Masjid Baangkat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan: 

Didirikan oleh Al Allamah Syekh H. Abbas dan Al Allamah Syekh H. Said bin Al Allamah Syekh H. Sa’dudin pada tanggal 28 Zulhijjah 1328 H bersamaan dengan tahun 1908 M yang terletak di desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur yang jaraknya ± 7 km dari kota Kandangan. 

Mesjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m persegi.

Bentuk bangunan induk mesjid su’ada yakni persegi empat, bertingkat tiga, mempunyai loteng menutup gawang/puncah dan petala/petaka yang megah. 

Semua itu mempunyai makna tertentu sebagai berikut:

a. Tingkat pertama mengandung makna Syariat

b. Tingkat kedua mengandung makna Thariqat

c. Tingkat ketiga mengandung makna Hakikat

d. Loteng mengandung makna Ma’rifat

e. Petala/petaka yang megah berkilauan yang dihiasi oleh cabang-cabang yang sedang berbunga dan berbuah melambangkan kesempurnaan Ma’rifat.

Banyak peristiwa yang terjadi seolah-olah aneh, tidak rasional tapi nyata ketika akan dan sedang dalam pembangunan Mesjid tersebut, seperti angina topan bertiup luar biasa keras dan derasnya yang menyebabkan sebatang pohon asam yang besar telah condong sekali akan minmpa rumah Al Allamah Syekh H. M. Said (pendiri Mesjid Su’ada). 

Al Allamah tersebut mendekati pohon tersebut dan mendorongnya dengan berlawanan arah, maka dengan pertolongan Allah SWT angin topan yang dahsyat itu berbalik arah sehingga pohon asam ini tumbang dan selamatlah ulama tersebut.

Kejadian lain yakni salah satu tiang utama Mesjid kurang panjang ± 10 cm, sehingga mengalami kesulitan untuk pendirian bangunan Mesjid. 

Dengan izin Allah, keesokkan harinya tiang tersebut menjadi bertambah panjang sesuai kebutuhan. 

Peristiwa lainnya, yakni ditengah perjalanan antara Kalumpang dan Negara, rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said kehabisan ikan untuk makan, tiba-tiba seekor ikan besar melompat ke perahu mereka dan akhirnya mereka mempunyai ikan untuk makan bersama. 

Kejadian lainnya yakni rombongan tersebut pada malam hari di perahu tidak bisa tidur karena kenyamukan, tiba-tiba dengan pertolongan Allah SWT, ternyata nyamuk tersebut menghilang, sehingga rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said dapat tidur.(Dispora HSS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar