Lamut, Sastra Lisan Suku Banjar

foto : istimewa

KBRN, Banjarmasin : Lamut adalah salah satu sastra lisan khas suku Banjar yang ditampilkan dalam bentuk teater tunggal dan hanya diiringi oleh satu alat musik bernama tarbang lamut.

Pada mulanya lamut merupakan sastra lisan masyarakat Tionghoa, kemudian dibawa oleh pedagang Tionghoa ke Banjar hingga berkembang di pahuluan sampai Amuntai pada tahun 1816.

Orang yang membawakan lamut (pelamutan) akan menampilkan cerita-cerita fantastis sambil diiringi lagu-lagu yang menghibur dengan narasi dan dialog yang memikat dan banyak mengandung perumpamaan yang dapat dijadikan pelajaran hidup.

Lamut dapat digelar dalam kegiatan hajatan, nazar, maupun hiburan. Sebelum digelar, lamut biasanya selalu didahului upacara kecil berupa pembakaran dupa, menyediakan piduduk, menyiapkan air kelapa muda untuk diminum palamutan, dan pembacaan doa selamat.

Pertunjukkan lamut selalu dibantu alat musik tradisional tarbang lamut yang ukurannya lebih besar dibandingkan tarbang rabana. Ketika palamutan membawakan cerita lamut, alat musik ini diletakkan di atas paha.

Selain itu lamut juga diiringi pedupaan untuk menimbulkan efek mistis dan khusyuk dalam pertunjukkan. Saat ini pertunjukkan lamut relatif tidak berubah, namun pementasan dengan tujuan hiburan sedikit mengalami perubahan.

Dahulu pementasan lamut memerlukan waktu semalam suntuk. Sekarang lamut hanya dipentaskan beberapa jam saja sesuai keperluan orang yang mempunyai hajat.(JN)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar