Manopeng, Tradisi Rasa Syukur dan Tolak Bala Bernuansa Mistis

foto : istimewa

KBRN, Banjarmasin : Budaya Banjar kaya akan perpaduan dari berbagai kepercayaan Islam dan Hindu, salah satunya disebut sebagai tradisi Manopeng yang ada di Desa Banyiur, Banjarmasin Barat.

Tradisi yang telah dilaksanakan sejak tahun 1870 ini diselenggarakan sekali dalam setiap tahun. Konon jika tidak dikerjakan, maka akan ada salah satu keluarga yang terkena penyakit.

Dalam tradisi Manopeng terdapat tari topeng Dayak Bakumpai yang ditarikan untuk menolak bala (babarasih kampung). Tradisi ini biasanya dimainkan dalam bentuk teater cerita rakyat sekaligus untuk pengobatan bagi yang sakit karena diganggu roh halus.

Sebelum dilaksanakan, dibuat 41 kue khas Banjar sebagai bagian dari sesaji saat tari topeng.Dalam pelaksanaannya, didapati para penari Manopeng yang awalnya tidak tahu caramenari menjadi bisa menari karena dipercaya kerasukan roh halus.

Tidak jarang pulapenontonnya turut kesurupan dan ikut menari. Penonton yang kerasukan akan berhenti dengan sendirinya jika sudah puas menari di panggung.

Tradisi Manopeng sudah menjadi tradisi keluarga yang dikerjakan turun-temurun sejak hampir 150 tahun yang lalu.

Dalam perkembangan saat ini, Manopeng menjadi tradisi mengungkapkan rasa syukur sekaligus menolak bala atau hal-hal buruk yang akan terjadi.(JN)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar