Korem Halu-Oleo Bantu Bocah Pengidap Infeksi Paru

Perwakilan Korem 143/HO saat menyerahkan bantuan kepada ibunda Rifa’i, Hartian, di rumahnya di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (3/8/2021). (Dok. Penrem 142/HO).jpeg

KBRN, Jakarta:  Seorang anak yatim bernama Muhammad Rifa'i (6) mengalami sakit infeksi paru sejak bayi.  Hal ini mendapat perhatian pihak Korem 143/Halu Oleo yang menyerahkan bantuan biaya pengobatan dan bahan makanan untuk anak tersebut.

Plh Kapenrem 143/HO, Letda Inf Rusmin Ismail mengungkapkan,  bantuan diserahkan kepada Rifa'i merupakan hasil donasi dari prajurit, PNS dan Persit Kartika Candra Kirana di jajaran Korem 143/HO.

"Empati yang dirasakan, mendorong personel TNI AD dan anggota Persit untuk turut peduli dalam membantu kesulitan yang dialami oleh ananda Rifa'i dan keluarganya," ungkapnya seperti dikutip RRI.co.id dari keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (3/8/2021).

Tidak saja cukup dengan mengatakan kasihan, Rusmin menyampaikan, sebagai mahluk sosial, pihaknya pun merasakan kesedihan dan kesulitan yang dialami Hartian (23), ibunda yang merawat Rifa'i dalam kondisi sakit sejak usia 1,5 bulan.

"Baru terkumpul Rp16.650.000 untuk bantu pengobatan dan tadi sudah diserahkan. Saat ini, pengumpulan donasi dari KBT TNI AD di Sultra pun masih berlangsung dan akan kita teruskan pada kesempatan berikutnya," ujarnya.

"Ini tentu dapat dikatakan tidak seberapa, namun setidaknya sebagai bagian dari masyarakat Sultra, Prajurit TNI AD harus senantiasa turut terlibat dan peduli membantu kesulitan yang dialami saudara kita," kata Rusmin melanjutkan.

Sementara itu, usai penyerahan bantuan bersama para pejabat utama Korem dan Dandim jajaran 143/HO, Kasi Pers Kasrem 143/HO Kolonel Arh Saptarendra P mengungkapkan, bahwa pemberian bantuan itu berawal dari informasi yang dibagikan oleh wartawan di grup WhatsApp.

"Tadi Danrem 143/HO Brigjen TNI Jannie A. Siahaan akan menyerahkan, tapi karena ada kegiatan yang tidak bisa ditunda maka beliau berhalangan hadir," ungkapnya.

Menurut pria yang akrab disapa Sapta itu, memperihatinkan memang, di tengah pandemi COVID-19, keluarga Hartian yang telah ditinggal mati suaminya sejak 3,5 lalu dengan tekun merawat anaknya yang mengalami sakit seperti itu sejak ananda Rifa'i berusia 1,5 bulan.

"Video yang beredar di grup WhatsApp dari kawan-kawan wartawan tidak saja membuat kita iba, tapi juga menyadarkan kita semua bahwa masih ada di antara kita yang membutuhkan uluran tangan," ujarnya.

Atas bantuan yang diberikan jajaran Korem 143/HO, Sapta berharap dapat menggugah berbagai pihak untuk ikut serta membantu Rifa'i maupun anak-anak lain yang mengalami hal serupa.

"Tadinya akan kami arahkan ke RS Korem, namun ternyata di sana tidak ada dokter spesialis paru sehingga dengan bantuan pengobatan ini bisa membantu Rifa'i berobat dan lekas sembuh," katanya.

Terpisah, Hartian, ibunda Rifa’i menjelaskan bahwa putranya telah menderita penyakit itu sejak dilahirkan dan saat ini setiap bernapas, Rifa’i selalu mendengkur.

“Saat lahir sudah begini memang. Pernah dibawa di Puskesmas Puuwatu, RS Bhayangkara, Korem dan Bahteramas tapi belum ada yang bisa menangani dirinya,” ungkapnya.

Kemudian, istri almarhum Muslan itu mengatakan, bahwa dirinya ingin membawa sang anak untuk menjalani operasi.

"Sejak COVID, saya kesulitan untuk berobat. Beruntung beberapa waktu lalu (ada) di antara Pak Babinsa (yang membantu), sehingga kami merasa terbantu sekali,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berobat, Hartian menyampaikan, bahwa ditanggung oleh ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan.

“Mau seberapa juga gajinya bapakku. Pas-pasan juga dia dapat uang dalam sehari, tak ada pilihan lain, saya hanya bisa menghabiskan waktunya di dalam rumah sembari menjaga si buah hati dengan obat-obatan seadanya,” ujarnya.

Sementara ayah Hartian dan kakek Rifa’i, Haidir (52), tampak tidak mampu menutupi rasa haru saat menerima bantuan pengobatan dari Korem 143/HO tersebut.

Haidir mengungkapkan, sebagai buruh bangunan, dirinya hanya bisa mengumpulkan uang sekitar Rp1 juta per bulan dan itu pun tidak tetap.

"Untuk kebutuhan per minggu Rifa'i saja sekitar Rp500 ribu. Saya pun dibantu saudara-saudara. Kemudian untuk mengantar Rifa'i, kami bersyukur ada Pak Babinsa yang mengantar,” ungkapnya.

"Sekali lagi, terima kasih bapak-bapak Korem yang telah membantu kami,” kata bapak dari empat orang anak itu menambahkan.

Untuk diketahui, selain menanggung Hartian dan Rifa’i, Haidir masih harus menanggung tiga orang anaknya yang saat ini masih sekolah di bangku kelas 3 SMA, 2 SMP dan 6 SD. (imr)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00