Bonus Atlet-atlet Indonesia di Olimpiade

(ANTARA)

KBRN, Jakarta: Kontingen Indonesia meraih 1 medali emas, dua perak dan tiga medali perunggu dalam multievent dunia Olimpiade 2020 yang sedang berlangsung di Tokyo Jepang. Satu medali emas dipersembahkan cabang olahraga bulutangkis melalui ganda putri pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu yang di final mengalahkan ganda China pasangan Chen Qing Chen/Jia Yi Fan. 

Sedangkan medali perak diraih lifter putra Eko Yuli Irawan di cabang olahraga angkat besi. Sementara medali perunggu diperoleh tunggal putra Antony Sinisuka Ginting di cabang bulutangkis serta lifter putri Windya Cantika dan lifter putra Rahmat Erwin Abdullah di cabang angkat besi. 

Bonus tentunya akan mengalir kepada mereka yang mempersembahkan medali baik emas, perak maupun juga perunggu. Tidak saja dari pemerintah juga dari pihak swasta yang peduli terhadap prestasi anak bangsa. 

Pertanyaannya berapa bonus yang akan mereka terima, apakah bonus khusus bagi mereka yang mendapat medali, bagaimana dengan atlet lainnya, manajer maupun juga pelatih. 

Menteri Pemuda dan Olahraga  Zainudin Amali memastikan semua atlet, pelatih dan ofisial yang berangkat ke Olimpiade Tokyo 2020 akan mendapat apresiasi dari pemerintah, terutama mereka yang mampu menyumbangkan medali.

Pemerintah melalui Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sudah menyiapkan bonus bagi para peraih medali di multi event Olimpiade tersebut. Untuk peraih medali emas akan menerima Rp 5 miliar, medali perak Rp2 miliar dan bagi yang meraih medali perunggu akan mendapat bonus Rp1 miliar. 

Selain bonus uang, pemerintah juga berjanji membuka peluang untuk mengangkat mereka yang meraih medali menjadi Aparatur Sipil Negara dan anggota TNI/Polri  sebagai jaminan kehidupan mereka jangka Panjang. 

Kita tentunya patut bersyukur karena kontingen Indonesia mampu mempertahankan Raihan tradisi medali emas. Apresiasi dan penghargaan  perlu juga disampaikan oleh pemerintah tidak saja kepada mereka yang mendapat medali, tetapi juga kepada semua atlet dan official. Walaupun tidak mendapat medali, perjuangan mereka untuk lolos kualifikasipun tidak bisa dianggap mudah. Perlu perjuangan dan pengorbanan, karena secara psikologis akan membuat mereka tidak akan bersemangat ke depannya. 

Oleh karena itu kita berharap, apresiasi dan penghargaan tidak boleh sampai terlambat. Jangan sampai kasus bonus atlet SEA Games 2013 di Myanmar terulang kembali di Olimpiade Tokyo 2020. Selain itu, tidak ada lagi terdengar dan terlihat nantinya, atlet terlantar harus menjual medali untuk menyambung kehidupannya, tidak punya pekerjaan dan tidak punya rumah setelah mereka tidak berprestasi lagi. 

Komentar disusun oleh Redaktur Senior RRI Agus Rusmin Nuryadin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00