Mendag: Waspada, Tantangan Perdagangan Global Makin Kompleks

Ilustrasi (Doc Istimew).jpg

KBRN, Jakarta: Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, perdagangan global saat ini semakin kompleks yang dapat mempengaruhi kinerja perdagangan Indonesia.

"Tantangan perdagangan global saat ini sangat kompleks, pandemi, krisis energi, krisis pangan, persaingan era digital, kenaikan harga komoditas, perubahan global supply chain, isu lingkungan dan perubah iklim jadi tantangan baru dan perlu diwaspadai," kata Mendag saat pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-36 Digital Edition, Kamis ( 21/10/21).

Neraca dagang Indonesia selama masa pandemi ini, tambah Mendag, membukukan kinerja yang sangat baik, karena 17 bulan berturut-turut mengalami surplus.

Dengan surplus tertinggi di bulan Agustus 2021 sebesar 4.7 miliar dollar AS dan capaian nilai ekspor tertinggi sepanjang sejarah sebesar 21.43 miliar dollar AS.

"Sedangkan total ekspor dari bulan  Januari-September 2021 sebesar 163.4 miliar dollar,  atau tumbuh 40.4 persen dari tahun ke tahun (you)," tukas Mendag.

Untuk meningkatkan ekspor, Mendag menyatakan akan lebih meningkatkan daya saing dan mendorong struktur ekspor, agar tidak lagi didominasi barang mentah tetapi ekspor harus produk yang bernilai tambah. Selain itu, akses pasar juga terus diperluas.

"Setelah terbentuknya perjanjian perdagangan regional RCEP dan Indonesia-Korea CEPA di penghujung tahun 2020, tahun ini Indonesia harus berupaya memperluas akses pasar dengan fokus pada penyelesaian perundingan perdagangan dengan negara negara mitra dagang  non tradisional di Asia Selatan dan Afrika," jelas Mendag.

Beberapa perundingan yang ditargetkan selesai tahun ini antara lain dengan Uni Emirat Arab, Tunisia, Banglades dan Pakistan. Termasuk perundingan Indonesia-Turki CEPA, dan Indonesia-EU CEPA. 

Sementara itu, terkait penyelenggaraan TEI 2021 Mendag Muhammad Lutfi mengatakan, TEI 2021 diselenggarakan secara digital sebagai bentuk adaptasi untuk tetap mempromosikan produk-produk Indonesia ke pasar global. 

"Tema yang diangkat dalam TEI ke-36 Digital Edition adalah Reviving Global Trade. Tema ini diangkat sebagai bagian dan upaya strategi Indonesia untuk menghidupkan kembali perdagangan global. Sekaligus sebagai terobosan baru bagi pelaku usaha Indonesia untuk mempromosikan produknya ke tingkat dunia," jelas Mendag.

Pada TEI kali ini, untuk pertama kalinya juga akan dipromosikan produk halal dan fesyen muslim Indonesia dengan menyediakan platform khusus bagi produk halal Indonesia, serta meluncurkan Jakarta Muslim Fesyen Week yang akan dilaksanakan secara back to back dengan TEI. 

Hal ini sebagai upaya menjadikan Indonesia, sebagai pusat industri halal dan kiblat mode bagi industri fesyen dunia di masa yang akan datang.

"Saat ini ekspor Indonesia untuk produk halal diperkirakan mencapai 6 miliar dollar AS atau setara dengan peringkat 21 dunia. Sedangkan untuk ekspor fesyen muslim diperkirakan sebesar 4,1 miliar dollar atau setara dengan 13 terbesar di dunia," papar Mendag.

TEI tahun ini, lanjutnya mendapat sambutan dengan antusiasme tinggi dari para eksportir. Stand yang terisi sebanyak 834 pelaku usaha, meningkat dari tahun lalu yang diikuti oleh 690 pengusaha, dan ada 2.900 calon pembeli dari 105 negara yang telah mendaftar secara online. 

"Angka tersebut akan terus naik sejalan dengan pelaksanaan TEI. Kami juga optimis target transaksi akan tercapai. Pada TEI  tahun 2020 capaian transaksi sebesar 1.3 miliar dollar,  dan pada TEI  tahun ini target transaksinya sebesar 1,5 miliar dollar," pungkas Mendag.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00