FOKUS: #PPKM

Dunia Saksikan Kemajuan e-commerce dan Pendidikan Indonesia

Calon konsumen melihat produk fesyen di ponsel melalui sebuah aplikasi jual beli daring di Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/12/2021). Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat mencatat Provinsi Jawa Barat menempati peringkat pertama untuk transaksi e-commerce secara nasional yang jumlahnya mencapai Rp15,02 triliun (total transaksi hingga pertengahan triwulan III 2021) dengan angka terbesar dicatatkan sektor fesyen, ponsel, dan perlengkapan aksesori lainnya. ANTARA FOTO/Novrian Arbi

KBRN, Jakarta: Presidensi G20 Indonesia menjadi momentum membuka mata dunia internasional bahwa sektor pemasaran barang dan jasa elektronik atau e-commerce di tanah air sangat potensial.

Hal ini ditegaskan Staf Khusus Presiden RI Billy Mambrasar dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) bertajuk “G20, Kita Bisa Apa?” di Jakarta, seperti dikutip RRI.co.id, Rabu (8/12/2021).

Ditambahkannya, selain itu gelaran internasional yang diselenggarakan selama satu tahun mendatang tersebut juga akan membawa berkah dalam dunia pendidikan di dalam negeri. 

Karena, berpeluang membuka akses pendidikan secara digital di tanah air. Dengan begitu, pendidikan semakin merata dari mulai masyarakat di kota hingga wilayah di pelosok pedalaman.

"Dengan percepatan pembangunan digital kita bisa melakukan digitalisasi pendidikan yang bisa diakses masyarakat dimanapun," kata Billy. 

Berkat pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang dilakukan pemerintah beberapa waktu lalu, katanya, berdampak pada akses pendidikan yang diterima oleh masyarakat di berbagai pelosok tanah air. 

Saat ini masyarakat dapat mengikuti pembelajaran hanya dengan melalui ruang-ruang digital yang saat ini berkembang pesat. 

"Pemerintah telah melakukan akselerasi transformasi digital dengan penambahan infrastruktur digital," tuturnya.

BACA JUGA: G20 Momentum Anak Muda Unjuk Prestasi

Hasilnya, saat ini indeks peningkatan manusia atau Human Development Index secara nasional terus menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik dari waktu ke waktu. 

Rata-rata angkanya dikategorikan masuk dalam jajaran nilai yang sangat baik bagi ukuran negara berkembang. 

Di wilayah yang memiliki kecenderungan nilai paling rendah pun, angka rata-rata pun setiap waktu merangkak naik. 

Artinya, terdapat sejumlah perbaikan pendidikan di setiap wilayah yang ada di Indonesia. 

"Di Papua yang memiliki nilai rendah dalam skala nasional, kini semakin hari menunjukkan angka peningkatan," imbuhnya. 

Ke depan, Billy optimis, peningkatan pendidikan dapat terus lebih baik. 

Seiring dengan program-program yang dimiliki oleh instansi terkait memiliki peluang untuk pendidikan Indonesia semakin baik. 

Apalagi dengan dibantu dengan alokasi dana sekitar Rp520 triliun, akan membuat kualitas pendidikan menjadi semakin maju dari waktu ke waktu.

"Ini merupakan jendela yang harus kita manfaatkan untuk menunjukkan kekuatan kita dalam ranag anak muda di G20," tuturnya.

Indonesia secara resmi memulai rangkaian Presidensi G20 selama satu tahun penuh terhitung mulai 1 Desember 2021 hingga November 2022. 

Dalam beberapa waktu ke depan akan digelar serangkaian kegiatan yang melibatkan anggota peserta G20 sampai pada akhir selenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. 

Senada dengan Billy, CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin di saat yang sama meyakini jika G20 menjadi saat yang tepat untuk makin menunjukkan perkembangan yang telah dicapai oleh Indonesia, diantaranya sektor e-commerce ini.

"Juga bisa kita tunjukkan pada mereka (pemimpin dunia) bahwa dunia e-Commerce di Indonesia juga sangat potensial," katanya.

Menurut dia, perkembangan sektor pemasaran barang atau jasa secara elektronik di tanah air sudah sangat berkembang secara signifikan dengan ciri khas masing-masing. 

Banyak di antara pelaku usaha di atas, memakai strategi pengembangan bisnis yang diciptakan sendiri berdasarkan dengan target segmentasi yang disasar oleh aplikasi terkait.

Hal ini tentunya, mempunyai daya tarik sendiri bagi para delegasi peserta gelaran G20 untuk mengetahui lebih lanjut tentang perkembangan e-commerce di dalam negeri. 

Mengingat, perkembangan sektor tersebut, lepas dari pakem-pakem metode strategi pengembangan bisnis digital yang dilakukan oleh negara maju seperti China dan Amerika Serikat (AS).

"Jadi di Indonesia belum tentu mengikuti metode pengembangan bisnis seperti China Style atau American Stlye," tuturnya. 

Namun, hasil dari pengembangan bisnisnya, lanjut Rachmat, banyak aplikasi yang menjadi wadah kegiatan pemasaran secara elektronik tersebut yang masuk dalam kategori unicorn. 

Artinya, pengembangan bisnis yang diciptakan dari inovasi yang dikaji sesuai dengan kondisi di tanah air mampu membuat aplikasi digemari masyarakat di nusantara.

"Ada banyak aplikasi yang sudah mendapat predikat sebagai unicorn," imbuhnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar