Ekonom: Kenaikkan TDL Dampaknya Kecil terhadap Inflasi

Warga memasukkan pulsa token listrik di salah satu indekos di kawasan Sunter Jaya, Jakarta, Senin (19/7/2021). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.

KBRN, Jakarta: Chief Economist PT. Bank Permata Tbk Josua Pardede memperkirakan, kenaikkan tarif dasar listrik yang mulai berlaku pada Jum'at (1/7/2022) dampaknya relatif kecil terhadap inflasi pada Juli 2022.

Alasannya, kenaikkan tarif dasar listrik hanya untuk R2 atau daya 3.500 volt ampere (VA) sampai dengan 5.500 VA, R3 atau 6.600 VA ke atas dimana jumlah pelanggannya tidak terlalu banyak hanya 2.5 juta atau 3 persen dari total pelanggan PLN.  

"Jadi kalau kita lihat secara umum sebenarnya dampak ke inflasinya memang ada tambahan inflasi tapi relatif kecil kurang dari 0.02 persen sebenarnya dampak tidak signifikan karena tidak menyasar kepada golongan yang disubsidi," kata Josua dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jum'at (1/7/2022).

Hal itu menanggapi pernyataan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono yang mengatakan, penyesuaian atau kenaikkan tarif listrik berpotensi besar dapat mendorong inflasi pada Juli 2022.

Diberitakan sebelumnya, penyesuaian tarif listrik ditetapkan pemerintah untuk golongan R2, R3, P1, P3 dari yang semula Rp1.444.7 per kWh kini dipatok menjadi Rp1.699.53 per kWh atau naik 17.64 persen, sedangkan golongan P2 ditetapkan menjadi Rp1.522.88 per kWh dari yang sebelumnya Rp1.114,7 atau naik 36.61 persen.

Menurut Josua, kenaikkan tarif dasar listrik yang ditetapkan karena ada beban tambahan yang dialami oleh PLN. Hal itu disebabkan harga minyak internasional naik, rupiah cenderung agak melemah, dan harga batu bara juga meningkat.

"Jadi memang di sini ada kenaikkan harga produksinya tetapi di sisi lainnya harga jual ke konsumen kanbelum diubah karena PLN selama ini yang menanggung selisih dari kenaikkan harga produksinya dengan harga jualnya," jelasnya.

Ia menjelaskan, kenaikkan untuk golongan untuk golongan R2, R3, P1, P3 karena jumlahnya kecil kurang dari 3 persen dari total pelanggan PLN dampak inflasinya tidak terlalu besar.

"Sehingga  pada akhirnya pemerintah harus mengkompensasi yang ditanggung oleh PLN. Itu akan dihemat sekitar kurang lebih Rp3 triliunan, jadi artinya ini akan menghemat APBN pemerintah pusat," terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar