FOKUS: #G20

Kenali Agenda Finance Track Presidensi G20 Indonesia

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Wempi Saputra dalam pengarahan pers yang diikuti RRI.co.id, Jumat (28/01/2022), di bilangan Jakarta Pusat. (Foto:RetnoMandasari/RRI)

KBRN, Jakarta: Presidensi G20 Indonesia yang telah dimulai pada 1 Desember 2021-30 November 2022, dibagi ke dalam Finance dan Sherpa Track.

Dalam Finance Track setidaknya terdapat enam agenda Indonesia selama keketuaannya itu.

“Enam agenda Finance Track yaitu Exit Strategy, Addressing Scarring Effect, Keuangan Berkelanjutan, Digital Payment, Financial Inclusion dan Perpajakan Internasional,” ungkap Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Kementerian Keuangan Wempi Saputra dalam pengarahan pers yang diikuti RRI.co.id, Jumat (28/01/2022), di bilangan Jakarta Pusat.

“Di dalam exit strategy dan scarring effect tadi walaupun kita seolah-olah jadi “wasit” kita ga punya nih pekerjaan spesifik harus apa ya. Tapi, tapering yang dikatakan oleh mas Widi tadi, itu harus disuarakan. Karena, kita termasuk yang terdampak. Sehingga, proses komunikasi kebijakan global yang sifatnya menghilangkan stimulus diperekonomian, itu harus kita tahu negara-negara maju kapan akan melakukan pengelolaan stimulus. Kita punya kepentingan itu sehingga akan kita masukan ke communique,” tambahnya.

BACA JUGA: Bali-Jakarta Dipastikan Jadi Lokasi Pertemuan G20

Wempi menjelaskan, dalam presidensinya di G20 terkait Keuangan Berkelanjutan Indonesia mengharapkan transisi menuju Ekonomi Hijau terlaksana secara adil dan terjangkau.

“Jadi, transisi green economy harus adjust and affordable. Mengapa adjust? Karena harus kita sesuaikan dengan state of development level pembangunan masing-masing negara. Ga bisa semuanya melaju secara simultan. Harus lihat kemampuannya sampai di mana,” terang Wempi.

Scarring effect atau efek luka akibat pandemi COVID-19, dimana di dalamnya dilakukan dengan koordinasi untuk jangka menengah dan jangka panjang.

“Di dalam Scarring Effect itu ada namanya sektor-sektor terdampak. Kita menganalisis sektor-sektor tertentu di dalam perekonomian. Misalnya, manufaktur kita bangkit, transportasi masih maju, pariwisata apalagi. Turunannya banyak tuh pariwisata, perhotelan, catering, dan sebagainya. “Bagaimana untuk jangka menengah jangka panjang? Ini bisa kita bangkitkan. Mungkin ga bisa lagi pakai strategi pandemi, tapi pasca pandemi. Strategi untuk mendiskusikan ini kita juga masukan ke dalam communice G20,” terang Wempi.

Ditambahkan Wempi terkait masalah kesehatan, Presiden Joko Widodo menekankan agar Presidensi Indonesia menyusun mekanisme pendanaan kesehatan global.

BACA JUGA: Negara G20 Komitmen Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

“Presiden bold sekali, pokoknya kita harus piloting mungkin menyusun suatu mekanisme pendanaan kesehatan global untuk mencegah pandemi di masa depan,” kata Wempi.

Transisi energi menjadi agenda dalam Finance Track Presidensi G20 Indonesia, yang mendorong adanya transisi energi non renewable menjadi renewable.

“Seperti apa prosesnya dan siapa yang diundang menjadi investor. Piloting-nya, apakah di PLN punya misalnya. Apakah BUMN sanggup untuk ikutserta di situ dan kira-kira kalau kita replikasi kepada pembangkit yang lain seperti apa,” pungkas Wempi.

Kementerian Keuangan menyebut, selain enam agenda prioritas dalam Finance Track, Indonesia juga akan fokus kepada beberapa isu yang merupakan isu legacy atau warisan dari Presidensi G20 Itali.

Yaitu,  mengintegrasikan risiko pandemi dan risiko iklim dalam risiko global dan penguatan global financial safety net. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar