FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Ini Latar Belakang Masyarakat Ragu-ragu Terhadap Vaksin

(Medical Xpress)

KBRN, Krakow: Dalam konteks pandemi COVID-19, menjadi penting untuk memahami mengapa orang menolak atau menunda divaksin tanpa batas waktu. Sebuah studi Polandia baru, yang dilakukan di Universitas Jagiellonian (Krakow, Polandia) dan Universitas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan SWPS (Wroclaw, Polandia) dan diterbitkan dalam jurnal Social Psychological Bulletin, mengemukakan dampak dari penyebaran aktif argumen anti-vaksin yang menarik perhatian, serta ketidakpercayaan keseluruhan pada Farmasi Besar, sains, dan penyedia kesehatan.

Dalam studi mereka, dengan menggunakan data dari total 492 peserta, yang telah mengidentifikasi diri sebagai ambigu terhadap atau menentang vaksinasi, tim peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Katarzyna Stasiuk, menyimpulkan bahwa penyangkal vaksin sebagian besar disebabkan sikap negatif umum terhadap vaksin, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (4/7/2021).

Argumen-argumennya dikumpulkan selama konferensi, di mana orang-orang yang menentang vaksinasi mempresentasikan pendirian mereka tentang masalah ini. Anehnya, meskipun mereka sering melaporkan pendirian mereka didasarkan pada pengalaman negatif mereka sendiri atau pengamatan dengan vaksin, ketika ditanya tentang alasannya, mereka agak kabur dalam memberikan penjelasannya. Banyak yang melaporkan bahwa mereka tidak mengingat sumber informasi, sementara yang lain mengaitkan dengan autisme, alergi, atau anak-anak yang sakit karena vaksin, meskipun korelasi bukti nya hilang.

Contoh-contoh itu dapat dijelaskan dengan kecenderungan orang untuk cenderung mengingat laporan negatif, bahkan jika itu hanya dibaca secara online.

"Bias konfirmasi terdiri dari individu yang secara aktif mencari informasi yang konsisten dengan hipotesis yang sudah ada sebelumnya, dan menghindari informasi yang menunjukkan penjelasan alternatif," kata para peneliti. "Sehingga, sikap negatif yang sudah ada sebelumnya terhadap vaksin dapat menyebabkan individu menafsirkan gejala-gejala negatif sebagai konsekuensi dari vaksinasi, yang semakin memperkuat sikap negatif."

Tim peneliti juga mengingatkan bahwa ketika diberikan informasi serupa dari berbagai sumber, orang cenderung lupa bagaimana mereka mempelajarinya, seringkali mencampuradukkan  dengan pengalaman mereka sendiri atau pengalaman orang terdekat mereka. Akibatnya, mereka bisa berubah menjadi sumber informasi yang salah.

Secara keseluruhan, para penyangkal vaksin percaya bahwa vaksin menyebabkan efek samping negatif yang serius, tidak melindungi individu dan masyarakat dari penyakit menular, dan belum cukup menerima pengujuan sebelum diberikan. Lebih jauh, mereka meyakini bahwa para pemimpin anti-vaksinasi memiliki informasi yang lebih baik tentang vaksin dibandingkan dokter.

Menariknya, jika dibandingkan dengan kelompok yang mengaku ragu-ragu terhadap vaksin, para penentang vaksin lebih cenderung percaya bahwa pengobatan modern mampu menangani epidemi.

Sementara itu, para peserta survei yang meragukan vaksin sebagian besar yakin akan kemanjuran vaksin, serta sudah diteliti dengan benar. Namun, mereka masih rentan terhadap pernyataan gerakan anti-vaksin tentang efek samping dan "konspirasi Farmasi Besar". Apalagi jika ini disajikan dengan argumen yang disiapkan dengan baik, mereka cenderung menjadi penyangkal vaksin.

Sebagai kesimpulannya, para ilmuwan mencatat bahwa bukti-bukti yang ada cukup pesimistis tentang kemungkinan mengubah sikap penentang vaksin, dan dengan demikian merekomendasikan bahwa upaya-upaya perlu difokuskan untuk meyakinkan kelompok yang meragukan vaksin, sehingga kekhawatiran mereka tentang efek negatif berkurang. Peneliti juga menyarankan bahwa mereka perlu disajikan dengan argumen prososial tentang mengapa profesional medis merekomendasikan vaksin, untuk memperkuat poin positif dari sikap mereka.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00