Membangun ‘Strong Motivation’ Atlet

Charly TRIBALLEAU / AFP
foto
Penulis: Tjuk Suwarsono

Penulis : Tjuk Suwarsono

Editor : Widhie Kurniawan

Diungkapkan dalam Olympic Solidarity (1998), bahwa atlet “Having special talent, strong motivation, and a willingness to work extremely hard, are characteristics of the successful athlete....’’

Crocker (2016), menegaskan untuk menciptakan prestasi olahraga kita harus memahami dan melibatkan banyak sub disiplin dalam ilmu olahraga termasuk Psikologi Olahraga.

Dari dua ungkapan di atas bisa kita tarik premis bermakna, yakni strong motivation (kehendak hati yang kuat) dan siap bekerja ekstra keras, serta pentingnya peranan psikologi olahraga.

Setelah  Olympic Games Atlanta tahun 1996. sebuah survei dilakukan oleh negara  maju,  menanyakan  15  atlet  yang  meraih  medali  dan  7  orang pelatih dari atlet tersebut untuk memberikan komentar tentang persiapan mereka dalam  menghadapi  Atlanta,  dan  kondisi-kondisi  yang  mereka  hadapi  disana. (Disampaikan Dede Rohmari  Nurjaya pada Pendidikan Kepelatihan Olahraga, FPOK Bandung).

Jawaban-jawaban ini sangat bermakna, antara lain:

1.  Para  atlet  memerlukan  dukungan  finansial  yang  jauh lebih  besar  untuk  dapat benar-benar  memenuhi  kebutuhan  dasar.  Mereka  yang  tidak  bisa  melakukan atau mendapatkan hal  ini  akan  berada  dalam kerugian/kekalahan. Karenanya para  atlet  memerlukan  dukungan  individual  dan/atau  dukungan  perusahaan, serta federasi olahraga nasional mereka.

2.  Para  atlet  memerlukan  bantuan  dan  kesempatan  untuk  merencanakan karir  mereka  selama  masa  pelatihan dan dukungan  setelah mereka  pensiun  dari  kompetisi.  Ini akan mendorong atlet  untuk  terus  berlatih demi mencapai keberhasilan.  Pelatihan  bagi  kompetisi  dunia  memerlukan  25  –  35  jam  per  minggu  selama beberapa  tahun. Sebagian besar atlet berlatih antara 12-18 latihan per minggu. 

3.  Hampir  semua  atlet  yang  diwawancarai  tidak  termotivasi  oleh  hadiah/penghargaan  finansial. Sebagai  gantinya,  cukup  dihargai  dengan kesempatan bergabung dalam Tim Olimpiade. 

Syarat  Atlet Juara

Ada empat aspek  penting  yang  harus  dimiliki  oleh  seorang  atlet  juara,  seperti  diungkapkan oleh Rusli Lutan dkk. (1999) yakni:

1. Sikap  mental  terhadap  pelaksanaan  pelatihan, meliputi:

(1) Kesediaan untuk melaksanakan kerja keras sebagai syarat mutlak untuk akses

(2)  Kesiapan  menerima  kepemimpinan  pelatih  dan  

(3)  Kesiapan  untuk menjalin kerja sama dalam sebuah tim.

2. Kualitas mental, mencakup: 

(1)  Kemampuan memikul dan mengatasi stress

(2)  Kemampuan memotivasi  diri

(3)  Pengendalian diri

(4) Ketekunan dan ketabahan, dan  

(5)  Kecepatan dan kejernihan pikiran dalam membuat putusan

3.   Efektivitas keterampilan taktis, mencakup kemampuan untuk menerapkan teknik yang sesuai dengan keadaan yang berubah-ubah

4. Kualitas fisik, mencakup:

(1)  Kemampuan daya  tahan  anaerobic  dan aerobik

(2) Kemampuan daya tahan  otot

(3) Kemampuan  fleksibilitas

(4)  Kemampuan  koordinasi

(5)  Kecepatan

(6)  Daya  tahan  kecepatan,

(7) Maximum strength, dan

(8) Power.

Peran Psikologi

Prof Dr Dimyati, MSi menjelaskan psikologi olahraga di Indonesia merupakan cabang psikologi yang baru. Kajiannya baru eksis tahun 1965 bersamaan dengan kongres pertama para pakar Psikologi Olahraga dunia yang diselenggarakan di Roma, Italia. Kongres tersebut telah melahirkan International Society of Sport Psychology (ISSP) suatu wadah pertama organisasi profesional yang ditujukan untuk mengembangkan dan mempromosikan Psikologi Olahraga sebagai disiplin ilmu.

Sejak deklarasi itu kajian Psikologi Olahraga khususnya di negara-negara maju semakin meningkat. Tumbuh kesadaran di kalangan para pembina dan pelatih, bahwa pembinaan olahraga tidak mungkin berkembang optimal tanpa melibatkan Psikologi Olahraga. Konsultan psikologi di China, Amerika Serikat, dan Brasil memberikan layanan komprehensif kepada para atlet nasional mereka dalam persiapan Olimpiade.

Latihan Keterampilan Mental (LKM) menjadi fokus utama untuk penelitian dan praktik dalam Psikologi Olahraga. Beberapa peristiwa menunjukkan profesionalisasi Psikologi Olahraga telah bergeser dari disiplin penelitian akademis ke bidang profesional interdisipliner. Di  sisi lain terdapat keterbatasan penelitian dan bukti empirik bahwa penyusunan program LKM telah berdasar pada konsep yang benar.

Upaya Dewan

Sementara itu di tingkat regulasi, revisi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional ditujukan untuk meningkatkan prestasi olahraga Tanah Air yang disebut belum merata di seluruh cabang olahraga. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf saat memimpin rapat dengar pendapat umum (RDPU) secara virtual dengan pakar olahraga dan atlet, menyatakan baru beberapa cabor yang sudah berprestasi di tingkat internasional, di antaranya bulu tangkis dan angkat besi.

“UU SKN dibuat tahun 2005 di Komisi X. Saat itu kita belum menduga ada perkembangan dunia olahraga. Tujuan utama UU ini untuk memperbaiki sistem keolahragaan kita. Namun, kenyataannya, sejak 2005 sampai saat ini sudah berjalan 15 tahun, justru olahraga kita tidak berkembang pesat. Hanya satu, dua cabor yang tembus pada jenjang dunia," ungkap Dede.

Politisi Partai Demokrat tersebut menyatakan, kapasitas RUU SKN juga ingin menjangkau masyarakat luas dengan tradisi hidup sehat. Selama ini, Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang masyarakatnya kurang fit dan sehat. Misalnya angka peserta dan pasien BPJS makin meningkat, akibat kurangnya upaya mengolahragakan masyarakat. Dunia olahraga saat ini terbagi dalam tiga kategori yakni olahraga prestasi, olahraga pendidikan, dan olahraga rekreasi. Panja RUU SKN tengah berupaya untuk menjangkau olahraga digital yang disebut sebagai perkembangan terbaru.

Turut hadir dalam rapat tersebut legenda bulu tangkis nasional Susi Susanti, serta mantan pesepak bola Bambang Pamungkas. Masih ditemukannya keluhan para atlet dan mantan atlet juga menjadi agenda pembahasan RUU SKN ini.

Strategi Nasional

Dalam  penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional  Bidang Olahraga Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, diberikan contoh keberhasilan China dalam mengembangkan olahraga prestasi dan peningkatan budaya olahraga di kalangan masyarakat. Hal ini terlihat dari prestasinya menjadi juara umum pada Olimpiade Beijing 2008.

Pemerintah Tiongkok mampu menggabungkan kebijakan keolahragaan yang mengarahkan olahraga sebagai salah satu alat instrumen bagi pencapaian visi (ideologi) masa depan bangsa. Cina menjadi adidaya baru di bidang olahraga secara sistematis, dikarenakan memiliki visi masa depan untuk mengungguli Amerika dan negara lain. Mereka melakukan konsolidasi berbagai aspek seperti politik, ekonomi, budaya, dan olahraga.

Arah kebijakan pembangunan olahraga China adalah: (1) menjadikan olahraga sebagai instrumen dari pencapaian visi bangsa; (2) menggunakan kemajuan ekonomi untuk memberikan jaminan kesejahteraan bagi atlet; (3) melakukan pembibitan atlet sejak dini secara berjenjang dan terintegrasi; dan (4) menjadikan kemajuan sains dan teknologi untuk melakukan akselerasi dalam pencapaian prestasi olahraga.

Dalam hal alokasi anggaran untuk melaksanakan pembangunan keolahragaan, negara-negara Asean mengalokasikan anggaran olahraga di atas 3%dari total anggaran negara. Sebagai contoh Singapura 3%, Malaysia 4,9%, Thailand 4,8%, Pilipina 3,4%, dan Vietnam 3% (UNDP, 2001). Sementara Indonesia anggaran yang dikelola Kemenpora masih kecil dan tidak memadai untuk melaksanakan program pembangunan keolahragaan. Hal ini terlihat dari DIPA Kemenegpora tahun 2008 sekitar 0,014% dari GNP.

Organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memberikan perhatian serius dalam pembangunan olahraga. Mantan Sekretaris Jendral PBB Kofi Annan pernah mengatakan, bahwa pembangunan olahraga (sports development) mencakup proses, kebijakan, dan praktik dalam membentuk suatu karakter yang integral dalam kegiatan olahraga. Olahraga dapat meningkatkan kemampuan hidup seseorang. Namun sebenarnya tidak hanya untuk individu namun juga untuk masyarakat dan negara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00