MA Kanada Pangkas Hukuman Andre Bissonnette

Ilustrasi foto Andre Bissonnette, terpidana pembunuhan massal di Masjid Quebec tahun 2017. (Foto: Istimewa)

KBRN, Jakarta: Mahkamah Agung Kanada telah mengurangi masa pembebasan bersyarat terhadap Andre Bissonnette, terpidana kasus penembakan massal di Masjid Quebec tahun 2017. Dia telah menewaskan enam warga Muslim.

Bissonnette sebelumnya hanya dapat memperoleh bebas bersyarat setelah menjalani hukuman 40 tahun penjara.

Namun, berkat putusan MA, pada Jumat (27/5/2022), Bissonnette hanya perlu menjalani masa kurungan selama 25 tahun sebelum bebas bersyarat.

"Penembakan di Centre Culturel Islamique de Quebec yang menewaskan enam orang dan melukai 19 lainnya pada 29 Januari 2017 merupakan peristiwa mengerikan. Insiden itu meninggalkan bekas luka yang dalam dan menyakitkan. (Tapi, red) tindakan pelaku tidak meniadakan gagasan bahwa "semua manusia memiliki kapasitas untuk rehabilitasi," bunyi keterangan MA Kanada dilansir dari laman CBC News, Sabtu (28/5/2022).

"Semua orang akan setuju bahwa pembunuhan berganda pada dasarnya adalah tindakan tercela dan merupakan kejahatan paling serius, dengan konsekuensi yang berlangsung selamanya," bunyi keputusan itu.

"Keputusan ini bukan tentang nilai kehidupan setiap manusia, melainkan tentang batas kekuasaan negara untuk menghukum pelanggar."

Hakim awalnya menjatuhkan hukuman seumur hidup tanpa peluang pembebasan bersyarat sebelum 40 tahun.

Namun, keputusan ini dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi Quebec, tahun 2020 lalu. Keputusan itu menunjukkan suara bulat memutuskan, untuk menetapkan penantian Bissonnette untuk kesempatan pembebasan bersyarat menjadi 25 tahun.

MA Kanada setuju dengan putusan Pengadilan Tinggi Quebec.

Bissonnette berusia 27 ketika menewaskan Mamadou Tanou Barry, Azzeddine Soufiane, Abdelkrim Hassane, Ibrahima Barry, Aboubaker Thabti dan Khaled Belkacemi.

Keputusan Mahkamah Agung Kanada dikritik keras oleh organisasi Justice for All Canada Muslim (JACM). 

"Peristiwa pada 2017 adalah aksi teror terburuk di Kanada, dan para korban dan keluarga mereka layak mendapatkan simpati dan keadilan," kata Direktur Eksekutif JACM Taha Ghayyur.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar