Para Tersangka Narkoba Jalur Bakauheni-Merak Dibongkar

Kasus pengungkapan narkoba di Bareskrim Polri (Dok. RRI/IMMANUEL CHRISTIAN)

KBRN, Jakarta: Direktorat Tindak Pidana (Dirtipid) Narkoba Bareskrim Polri mengungkap identitas para pelaku tersangka dari empat kasus narkoba.

Empat kasus narkoba dibongkar sekaligus dengan jalur Seaport Interdiction di Pelabuhan Bakauheni, Lampung-Pelabuhan Merak, Banten.

“Dittipidnarkoba bareskrim polri bekerjasama dengan ditresnarkoba polda lampung melaksanakan kegiatan rutin yang ditingkatkan (kryd/seaport) interdiction di pelabuhan penyeberangan bakau heni lampung selatan. Kryd dilakukan dalam bentuk pemeriksaan kendaraan, dan orang yang dicurigai membawa narkoba yang akan menyeberang ke merak,” ucap Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Krisno Halomoan Siregar, Kamis (21/10/2021).

Krisno juga mengatakan, pembongkaran empat kasus narkoba itu hasil dari kerja sama dengan Ditsatwa Barhakam Polri, Polda Lampung, dan Polres Lampung Selatan.

Baca juga: Empat Kasus Narkoba Dibongkar Bareskrim Polri: 19 Tersangka

"Ada 19 tersangka yang telah diamankan dengan satu orang meninggal dunia karena melakukan perlawanan terhadap petugas," kata Kabag Penum Mabes Polri, Kombes Ahmad Ramadhan.

Tersangka pada kasus pertama ialah ag, ds, rh, hy, dyz, fb yang kebanyakan berprofesi sebagai karyawan dan wiraswasta hingga buruh. Sementara untuk tersangka berinisial ac, s, dr, spi adalah pelajar dan as yang bekerja sebagai ojek.

Sementara untuk kasus kedua para tersangka ialah r, nhf, dan hs dengan bekerja sebagai karyawan swasta hingga wiraswasta.

Sementara untuk tersangka wmp berprofesi sebagai buruh.

Untuk kasus ketiga para tersangka ialah sn, phs yang merupakan karyawan swasta, dan na merupakan seorang sopir. 

Sementara tersangka dis telah dilakukan tindak an tegas terukur dan kini meninggal dunia karena melakukan perlawanan kepada petugas.

Kasus keempat ada dua tersangka, yang pertama L alias Y alias N yang merupakan seorang karyawan swasta. Sementara AN alias N ialah seorang kuli bangunan.

“Kami melibatkan anjing pelacak baik dalam mendeteksi kendaraan maupun orang yang melintas yang kami duga membawa barang narkoba,” ucap Krisno.

Para tersangka, kata dia, dikenakan pasal 114 ayat (2) uu ri nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

"Ancaman hukuman pidana mati, pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun penjara dan denda minimal rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) dan maksimal rp 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah)," kata Krisno.

"Subsidair pasal 112 ayat (2) uu ri nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, ancaman hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun penjara dan pidana denda minimal rp 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah) dan maksimal rp 8.000.000.000,- (delapan milyar rupiah)," kata Krisno. (DNS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00