Cuaca Ekstrem, Nelayan Kendal Tidak Melaut

KBRN, Kendal : Para nelayan di Kabupaten Kendal sudah sepekan ini banyak yang tidak melaut, karena cuaca ekstrim. Dalam kondisi paceklik seperti ini, penghasilan nelayan pun menurun.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal Hudi Sambodo mengatakan, kondisi laut yang ekstrem dengan gelombang tinggi dan angin besar merupakan siklus tahunan yang terjadi sekitar bulan Desember hingga Januari. Pada kondisi seprti itu bagi nelayanan merupakan masa paceklik, karena tidak melaut, sehingga tidak mendapatkan penghasilan.

Pihaknya pun melakukan antisipasi untuk keselamatan nelayan dengan memberikan informasi tentang prakiraan cuaca dan kondisi gelombang kepada nelayan melalui masing-masing Tempat Pelelangan Ikan (TPI). “Petugas kami sudah melakukan pengecekan di lima TPI, memang saat ini banyak nelayan yang tidak melaut,” katanya, Selasa (18/1/2022).

Hudi mengatakan, untuk membantu para melayan yang mengalami paceklik, biasanya ada bantuan dari pemerintah daerah berupa beras. Bantuan paceklik ini sudah rutin diberikan kepada para nelayan setiap tahun. “Iya ada bantuan paceklik untuk para nelayan, seperti pada tahun 2021 lalu, dan untuk tahun ini sedang dikoordinasikan,” katanya.

Seorang nelayan di Kelurahan Bandengan Kecamatan Kendal, Ruslim mengatakan, saat ini kondisi laut cukup ekstrim dengan ketinggian gelombang mencapai dua meter dan angin kencang. Cukup beresiko jika nekat melaut, sehingga banyak yang memilih tidak melaut. “Ada yang melaut, tetapi lihat kondisi, mencari celah ketika gelombang laut tidak besar,” ujarnya.

Ruslim mengaku, dalam kondisi paceklik, penghasilan nelayan menurun. Jika kondisi normal bisa melaut mulai pagi hingga sore hari, dirinya bisa mendapatkan sekitar Rp 1,5 juta. Namun saat ini hanya mendapat sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu, dipotong biaya bahan bakar sebesar Rp 150 ribu. Sebagian lagi untuk pekerja yang ikut melaut, dua atau tiga orang.

“Penghasilannya ya menurun, kalau kondisi normal bisa menjaring sampai lima kali, tetapi kondisi sekarang ini kadang baru satu atau dua kali menjaring harus pulang, karena ada ombak besar,” katanya.

Pada saat tidak melaut, sebagian nelayan memanfaatkan waktu luangnya untuk memperbaiki perahu atau jaring ikan yang rusak. Bagi nelayan yang berani nekat dengan resiko tinggi, tetap melaut, namun jika ombak mulai tinggi, tetap harus kembali pulang. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar