Permintaan Pasar Jamur Tiram Cukup Tinggi

KBRN, Magelang : Permintaan pasar jamur tiram di wilayah Magelang cukup tinggi, yakni mencapai 500 ton lebih setiap minggunya. Namun, produksi jamur tiram dari para petani di Magelang sekitar 50 kilogram per harinya.

“Salah satu kendala untuk mencukupi kebutuhan jamur tiram tersebut yakni faktor cuaca yang kurang menentu, yakni bila terlalu panas atau terlalu basah sangat mempengaruhi pertumbuhan jamur,” kata Wakil Ketua Asosiasi Jamur Magelang Raya, Nur Yudi, Minggu (14/11/2021).

Nur Yudi mengatakan, jika suhu terlalu lembab maka  jamur akan basah dan tidak bisa  tahan lama. Sebaliknya , jika suhu terlalu panas maka, jamur akan kering dan berwarna kekuningan.

Menurutnya, untuk mencukupi kebutuhan jamur di wilayah Magelang Raya, tersebut para petani jamur sepakat bersatu untuk membentuk wadah yakni Asosiasi Jamur Magelang Raya yang telah terbentuk satu tahun lalu.

Ia menambahkan, meskipun sudah terbentuk asosiasi petani jamur yang tersebar di 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang, hingga saat ini para petani masih kewalahan untuk mencukupinya.

Jumlah petani jamur di wilayah Kabupaten Magelang yang tersebar di 13 kecamatan tersebut, jumlahnya sekitar 200-an petani jamur.

“Meskipun demikian, kami tidak menampik masih banyak juga petani jamur yang belum masuk dalam asosiasi ini. Dan, permintaan tersebut juga masih tinggi,” kata Nur Yudi yang juga petani jamur asal Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang ini.

Nur Yudi menjelaskan, setelah satu tahun berdiri,  Asosiasi Jamur Magelang Raya juga telah berhasil  mengembangkan bibit jamur sendiri. Salah satunya, berhasil mengembangkan bibit jamur tiram coklat dengan cara kultur jaringan.

“Selain jamur tiram coklat, yang ditanam para petani yakni jamur tiram putih dan jamur kuping. Namun, penjualan jamur kuping yang harus kering, kendalanya di saat musim penghujan seperti saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kelembagaan dan Promosi, Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Magelang, Budi Setiyo mengatakan,  saat ini  kebutuhan jamur di wilayah Magelang mencapai 50 kilogram per hari. Dan,  produksi dari petani jamur yang ada di wilayah Kabupaten Magelang belum bisa mencukupi.

“Kebutuhan jamur di Magelang dalam seminggunya mencapai lebih dari 500 ton per minggu, sedangkan produksi dari petani hanya 50 kilogram per harinya,”kata Budi Setiyo.

Ia menambahkan, meskipun produksi jamur tersebut belum bisa mencukupi kebutuhan, namun beberapa investor dari luar daerah juga tertarik  bekerjasama dengan para petani jamur dari Asosiasi Jamur Magelang Raya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong para petani jamur yang ada di Kabupaten Magelang, untuk bisa mengembangkan jamur unggulan yang nantinya bisa menjadi produk unggulan dari Kabupaten Magelang

“Kami akan terus mendorong para petani untuk mengembangan jamur lokal Magelang yang nantinya bisa dijadikan produk unggulan dari Kabupaten Magelang,”katanya. Dyas

KBRN, Magelang : Permintaan pasar jamur tiram di wilayah Magelang cukup tinggi, yakni mencapai   500 ton  lebih setiap minggunya, Sedangkan, produksi jamur tiram dari para petani di Magelang sekitar 50 kilogram per harinya.

“Salah satu kendala untuk mencukupi kebutuhan jamur tiram tersebut yakni faktor cuaca yang kurang menentu, yakni bila terlalu panas atau terlalu basah sangat mempengaruhi pertumbuhan jamur,” kata Wakil Ketua Asosiasi Jamur Magelang Raya, Nur Yudi, Minggu ( 14/11).

Nur Yudi mengatakan, jika suhu terlalu lembab maka  jamur akan basah dan tidak bisa  tahan lama. Sebaliknya , jika suhu terlalu panas maka, jamur akan kering dan berwarna kekuningan.

Menurutnya, untuk mencukupi kebutuhan jamur di wilayah Magelang Raya, tersebut para petani jamur sepakat bersatu untuk membentuk wadah yakni Asosiasi Jamur Magelang Raya yang telah terbentuk satu tahun lalu.

Ia menambahkan, meskipun sudah terbentuk asosiasi petani jamur yang tersebar di 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang, hingga saat ini para petani masih kewalahan untuk mencukupinya.

Jumlah petani jamur di wilayah Kabupaten Magelang yang tersebar di 13 kecamatan tersebut, jumlahnya sekitar 200 an petani jamur.

“Meskipun demikian, kami tidak menampik masih banyak juga petani jamur yang belum masuk dalam asosiasi ini. Dan, permintaan tersebut juga masih tinggi,” kata Nur Yudi yang juga petani jamur asal Desa Gumelem, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang ini.

Nur Yudi menjelaskan, setelah satu tahun berdiri,  Asosiasi Jamur Magelang Raya juga telah berhasil  mengembangkan bibit jamur sendiri. Salah satunya, berhasil mengembangkan bibit jamur tiram coklat dengan cara kultur jaringan.

“Selain jamur tiram coklat, yang ditanam para petani yakni jamur tiram putih dan jamur kuping. Namun, penjualan jamur kuping yang harus kering, kendalanya di saat musim penghujan seperti saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kelembagaan dan Promosi, Dinas Pertanian dan Pangan, Kabupaten Magelang, Budi Setiyo mengatakan,  saat ini  kebutuhan jamur di wilayah Magelang mencapai 50 kilogram per hari. Dan,  produksi dari petani jamur yang ada di wilayah Kabupaten Magelang belum bisa mencukupi.

“Kebutuhan jamur di Magelang dalam seminggunya mencapai lebih dari 500 ton per minggu, sedangkan produksi dari petani hanya 50 kilogram per harinya,”kata Budi Setiyo.

Ia menambahkan, meskipun produksi jamur tersebut belum bisa mencukupi kebutuhan, namun beberapa investor dari luar daerah juga tertarik  bekerjasama dengan para petani jamur dari Asosiasi Jamur Magelang Raya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong para petani jamur yang ada di Kabupaten Magelang, untuk bisa mengembangkan jamur unggulan yang nantinya bisa menjadi produk unggulan dari Kabupaten Magelang

“Kami akan terus mendorong para petani untuk mengembangan jamur lokal Magelang yang nantinya bisa dijadikan produk unggulan dari Kabupaten Magelang,”katanya. Dyas

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar