Bandeng Ulujami Pemalang Diolah Menggunakan Alat Presso OZ

KBRN, Semarang : Produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sangat beragam menyebabkan adanya persaingan sangat ketat. Untuk meningkatkan daya saing, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (Unnes) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan kegiatan diseminasi teknologi, dengan sasaran pelaku UMKM di Balai Desa Ulujami, Kabupaten Pemalang, baru-baru ini. 

Diseminasi Teknologi Pengolahan Pasca Panen Aneka Produk Bandeng Ulujami di Kabupaten Pemalang, diikuti 60 orang berasal dari 2 kelompok UMKM, pelaksanaannya mematuhi protokol kesehatan. Kegiatan ini didasari keprihatinan anggota DPR RI Dapil Jateng X, Ramson Siagian, akan banyaknya bandeng segar yang dijual keluar Pemalang. Ia berharap, masyarakat kawasan Ulujami dapat mengolah bandeng jadi berbagai produk olahan. Seperti di antaranya bandeng presto, tahu bandeng, atau nugget bandeng sehingga punya nilai tambah. 

"Dengan adanya usaha pengolahan bandeng ini akan menjadi pengungkit meningkatnya kesejahteraan masyarakat, karena tentunya akan menciptakan lapangan kerja," tuturnya. Tahun ini, Unnes bermitra dengan BRIN memilih 2 kelompok usaha untuk didampingi mengembangkan wirausaha pengolahan bandeng. 

Pendampingan secara intensif berupa pelatihan dilakukan secara tatap muka terbatas dengan menghadirkan tim PTDM LPPM Unnes yakni Danang Dwi Saputra, M Ibnan Syarif, dan Etty Soesilowati dan Kepala Unit Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kabupaten Pemalang,  Sulistyoningsih. Rangkaian kegiatan dalam program ini dimulai dengan sosialisasi hingga pendampingan usaha yang dipandu dan didampingi oleh pakar dan tim.

"Kami didampingi mulai dari proses membersihkan bandeng, membuat formula bumbu, mengoperasikan alat Presso OZ, hingga pengemasan dari mendesain kemasan hingga membuat merek," tutur Ketua BUMDes Pengolahan Bandeng Desa Kertosari, Hidayati. 

Di sisi lain, Abdul Hamid, Kepala Desa Kertosari, Ulujami, Pemalang mengaku senang dengan kehadiran Unnes dan BRIN di desanya. "Berkat Unnes dan BRIN, kami jadi tahu potensi desa kami dan arah pengembangannya hingga bisa menjadi sumber PAD yang pada akhirnya untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat Kertosari," tandasnya.

Ketua dan Inventor Alat Presto Serbaguna Teknologi Ozonizer-Low Temperature High Pressure "PREZZO OZ", Danang mengatakan, program ini bertujuan agar mitra mampu menerapkan teknis teknologi tepat guna pengolahan ikan bandeng yang berkualitas. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan materi penyuluhan/ pelatihan. 

Workshop tentang penerapan teknologi tepat guna dimulai dari pemilihan bahan baku yakni ikan bandeng, standarisasi pengolahan ikan, manajemen desain kemasan hingga manajemen pengeolalan usaha. Preso Oz merupakan alat presto yang mengkombinasikan ozon (O3)  didalam komponen alatnya. 

"Ozon dimanfaatkan sebagai desinfektan untuk proses sterilisasi, menghilangkan kandungan logam berat seperti besi (Fe) dan mangan (Mn) yang menempel pada produk pangan, memperpanjang masa simpan, dan meningkatkan tingkat keamanan pangan. Ozon dalam alat Presso-OZ juga memiliki fungsi utama, yaitu sebagai oksidator dan disinfektan," jelasnya. 

Adapun, keunggulan alat ini akan meghasilkan olahan ikan dengan kadar protein lebih tinggi. Bandeng duri lunak (soft bones)  yang dimasak dengan PRESSO-OZ terbukti mempunyai kadar protein tertinggi (24,98 persen) dibandingkan dengan bandeng duri lunak (soft bones) yang dimasak dengan alat  lain, yaitu 10,79 persen dan 17,88 persen. 

Menurut Danang, produktivitas Pesso OZ juga lebih tinggi yakni dalam sekali proses mampu memasak 60 - 90 kg bandeng, sementara panci duri lunak (soft bones)  pada umumnya mampu memasak sekitar 10 kg dalam setiap panci/ sekali proses.Selain itu juga Presso OZ juga hematwaktu: hanyamembutuhkanwaktu 1,5 - 2,5  jam (bergantung jumlah bandeng yang dimasak), sementara cara konvensional membutuhkan waktu lebih dari 5 jam.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar