Pengendara Ojol Getok Tular Kampanyekan BPJAMSOSTEK

Sumber : IG BPJAMSOSTEK

Kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) bagi sektor pekerja informal, seperti pengendara ojek online atau ojol, merupakan hal mutlak untuk menghindari risiko rawan saat bekerja mengantar penumpang, makanan, maupun barang. Namun belum seluruhnya pekerja rentan ini mau bergabung jadi peserta BPJAMSOSTEK. Kondisi inilah yang membuat komunitas dan sesama pengendara ojol terus mengampanyekan pentingnya memiliki perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. Berikut laporannya. 

Sekalipun bergabung menjadi pengendara ojol sebuah platform digital sejak tahun 2017, Tri Rahardi (50) warga Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, baru tertarik menjadi peserta BPJAMSOSTEK pada 2020 lalu. Ia akhirnya menyadari arti pentingnya perlindungan tersebut, setelah berulang kali diingatkan lewat pesan notifikasi platform digital ojeknya. Termasuk rekannya sesama pengendara ojol yang terus menyarankan bergabung dengan perlindungan tersebut. Apalagi, dirinya beberapa kali pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya harus menjalani perawatan di rumah sakit. 

"Kami punya grup WA (Whatsapp-red), berulang kali juga rekan anggota grup membuat postingan ajakan bergabung BPJAMSOSTEK. Lewat grup tersebut, banyak cerita pengendara ojek kecelakaan, menjalani perawatan rumah sakit, hingga menerima manfaat BPJAMSOSTEK, ini membuat saya menyadari penting memiliki perlindungan sosial ketenagakerjaan," jelas bapak dua anak yang hobi olahraga fitnes. Grup WA pengendara ojol terus bertambah, sehingga postingan sosialisasi BPJAMSOSTEK juga terus dilakukan secara berulang-ulang. 

Rahardi sendiri merupakan salah satu pengendara ojol yang punya akun gacor. Ini karena konsistensinya kerja ngojek sejak 2017, berangkat pagi hingga pulang sore. Dalam satu hari, ia rata-rata bisa menerima 19 orderan, baik itu penumpang, makanan, maupun barang. Tak jarang, ia mengantarkan penumpang dengan berkendara motor hingga keluar kota, seperti Kabupaten Semarang dan Demak. Bahkan, sampai menempuh jarak 25 kilometer. Melintasi jalan raya padat kendaraan, tak pernah terpikir sekalipun untuk khawatir, dengan kerawanan yang mungkin terjadi selama dirinya bekerja. 

Dengan demikian, ikut bergabung jadi peserta BPJAMSOSTEK ini juga menjadi pilihannya. "Baru setahun lalu (2020-red) saya bergabung, setiap bulannya dipotong Rp 16.800 untuk mendapatkan manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja serta Jaminan Kematian," ungkapnya. Dari informasi platform digital ojeknya, ternyata banyak manfaat yang diterima bagi peserta perlindungan jaminan sosial tersebut. Menjadi peserta jaminan kecelakaan kerja, akan mendapat perlindungan atas risiko kecelakaan kerja selama di perjalanan atau tempat bekerja. Menerima santunan upah selama tidak bekerja. 

Sebelum bergabung, Rahardi mempelajari terlebih dulu semua manfaat yang diterima peserta BPJAMSOSTEK. Terhadap pengedara ojol lainnya, ia pun tak segan-segan mengajak mereka bergabung jadi peserta perlindungan jaminan sosial tersebut. 

Berbeda dari Rahardi, pengendara ojol lain, Luis (39) warga Tembalang, mengaku langsung tertarik mengikuti program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Ia menyadari posisinya sebagai pekerja rentan, ikut BPJAMSOSTEK juga sebagai bentuk perlindungan terhadap keluarganya. "Di lapangan, saya kadang juga ditanya-tanya soal keikutsertaan perlindungan jaminan sosial itu. Begitu mendengar kisah penerima manfaatnya, baru mereka mendaftar," tandasnya. 

Menurut dia, pernah ada rekannya pengendara ojol kecelakaan di Semarang Barat, hingga bahunya sampai dislokasi. Rekannya itu dibawa ke RS Tugurejo setelah menunjukkan KTP dan kartu BPJAMSOSTEK, pihak rumah sakit langsung menanganinya. Berdasarkan data asosiasi ojol, Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia pada April 2020, tercatat ada 4 juta pengendara ojol tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah pengendara ojol terus bertambah, karenanya peran rekan seprofesi untuk menyosialisasikan program perlindungan jaminan sosial juga diperlukan. 

Kiprah program BPJAMSOSTEK ini pernah menarik perhatian dunia, kala model perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan  bagi pekerja berbasis teknologi digital, seperti ojek online itu dikenalkan dalam pertemuan Organization of Economic Co-operation and Development (OECD) & International Social Security Association (ISSA) di Berlin pada Senin (12/6/2017). BPJAMSOSTEK sendiri berupaya memperluas kepesertaan program tersebut untuk sektor informal, dengan menggandeng mitra kerja dan stakeholder. 

Bukan hanya pengendara ojol, sektor informal yang disasar seperti halnya pekerja sosial hingga pengurus RT/ RW. Pekerja sosial itu seperti halnya PSM (Pekerja Sosial Masyarakat), TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan), Difabel, Tagana (Taruna Siaga Bencana), Pelopor (Tenaga Pelopor Perdamaian). Kepala Kantor Cabang BPJAMSOSTEK Semarang Pemuda Teguh Wiyono menilai perlunya sektor pekerja informal, termasuk pengendara ojol terlindungi jaminan sosial ketenagakerjaan. Banyak manfaat yang diterima bagi peserta dalam program tersebut. 

Pihaknya juga telah menyosialisasikan PP 82 Tahun 2019 tentang perubahan atas PP Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. "PP itu di antaranya mengatur santunan pengganti upah selama tidak bekerja ditingkatkan nilainya menjadi sebesar 100 persen untuk 12 bulan, dari sebelumnya 6 bulan dan seterusnya sebesar 50 persen hingga sembuh," jelasnya. 

Selain itu bantuan beasiswa diberikan Rp 12 juta untuk seorang anak, saat ini menjadi maksimal sebesar Rp 174 juta untuk dua orang anak. Dengan demikian, kenaikan manfaat beasiswa BPJAMSOSTEK tersebut mencapai 1.350 persen.

Peningkatan manfaat lainnya yakni untuk program Jaminan Kematian yang meningkat 75 persen dari yang sebelumnya Rp24 juta menjadi Rp42 juta. 

Hingga Juli 2021, BPJAMSOSTEK Kantor Wilayah Jawa Tengah dan DIY tercatat telah membayarkan klaim jaminan sebanyak Rp 1,76 triliun dengan 238.409 kasus untuk empat program yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian, dan Jaminan Pensiun. Deputi Direktur Wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta Suwilwan Rachmat menjelaskan, pembayaran klaim JHT mendominasi sebanyak Rp 1,5 triliun dengan 28.447 kasus. 

Suwilwan Rachmat atau yang akrab disapa Willy menyebutkan, pembayaran klaim Jaminan Kecelakaan Kerja per Juli 2021 mencapai Rp 73,8 miliar dengan 2.086 kasus. Kemudian, disusul Jaminan Kematian sebanyak Rp 78 miliar dengan 192.962 kasus. Untuk Jaminan Pensiun Rp 24,7 miliar dengan 238.409 kasus. "Total klaim jaminan Rp1,76 triliun dibayarkan oleh seluruh kantor cabang, di wilayah Jateng dan DIY ada 12 kantor cabang," kata Willy di Semarang, Selasa(31/8/21). Sebanyak 12 kantor cabang yakni Semarang Pemuda, Surakarta, Cilacap, Yogyakarta, Pekalongan, Kudus, Magelang, Tegal, Klaten, Purwokerto, Ungaran, dan Semarang Majapahit. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar