Terinspirasi Merapi Erupsi, Guide Wisatawan Ini Jual Tiwul Lava Merapi

KBRN, Magelang : Makanan tradisional tiwul identik dengan  Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogjakarta. Namun, tidak perlu-jauh-jauh ke Gunungkidul untuk menikmati makanan  yang terbuat dari tepung gaplek singkong tersebut dan cukup di sekitar Candi Borobudur bisa membeli dan menyantapnya.

Adalah pasangan suami- istri, Mura Aristina dan Linda Purwaningsih, warga Bumen, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang yang mempunyai usaha kuliner itu.

Namun, makanan tiwul yang dibuat pasangan suami-istri tersebut agak berbeda dibandingkan dengan tiwul-tiwul di Gunungkidul Handayani itu. Yakni, tiwul buatan Linda Purwaningsih ini diberi juruh (kuah) gula merah yang menyerupai lava Gunung Merapi yang sedang meleleh.

Karena bentuknya seperti lava Merapi, maka tiwul tersebut diberi nama tiwul lava Merapi.

Mura mengatakan, penamaan tiwul lava Merapi tersebut terinspirasi dari lava pijar yang meleleh saat Gunung Merapi yang erupsi seperti saat ini.

Menurutnya, bisnis tiwul lava Merapi tersebut baru dikembangkan sekitar satu tahun lalu saat pandemi Covid-19 sedang melanda seluruh dunia.

“Pandemi covid-19 yang melanda Indonesia di awal tahun 2020 lalu, membuat  pariwisata di Candi Borobudur menurun tajam, dan mempengaruhi perekonomian khususnya bagi pemandu wisata seperti saya ini. Kemudian, muncul ide bisnis makanan tiwul untuk mengisi kegiatan di rumah,” kata Mura yang juga salah satu pemandu wisata di Candi Borobudur.

Ia menambahkan, ide pembuatan tiwul  yang dibentuk kerucut dan di bagian atas diberi cekungan untuk menempatkan air gula merah   dan juruh  tersebut  ndledek ( lumer), terinspirasi dari Gunung Merapi saat erupsi mengeluarkan lava pijar.

Menurutnya, untuk mencukupi gaplek yang menjadi bahan utama pembuatan tiwul tersebut, dirinya mengaku tidak mengalami kesulitan. Karena,  diambil langsung dari Gunungkidul yang juga merupakan kampung halaman istrinya tercinta.

Sedangkan proses memasak atau pengukusan  tepung gaplek menjadi tiwul tersebut hanya memakan waktu yang singkat yakni hanya 10 menit saja.

“Memasaknya cukup singkat  hanya  sekitar 10 menit. Yang paling sulit itu waktu nginteri ( mengayak) setelah ditumbuk menjadi tepung. Kalau ada yang mengeras dibuang, yang lembut dimasak, “ ujar pria yang juga pegawai di Balai Konservasi Borobudur ini.

Adapun tiwul yang dijualnya dengan beberapa varian dan toping. Seperti rasa gula Jawa, cokelat keju, cokelat atau keju saja. Kemudian, ada juga yang dicampur dengan pisang.

Sedangkan untuk harganya cukup terjangkau, yakni tiwul  rasa gula Jawa seharga  Rp15000, cokelat keju Rp17000, cokelat Rp15000 dan keju Rp 15.000. Sedangkan yang campur cokelat keju pisang Rp 20.000.

“Namun  yang paling disukai tiwul  yang orisinal yakni yang rasa gula Jawa. Dan tiwul ini meskipun tanpa bahan pengawet bisa bertahan 24 jam ,” jelasnya.

Ia menambahkan, tiwul dengan rasa cokelat keju, cokelat atau keju dan dicampur pisang tersebut paling banyak disukai anak-anak.

Istri Mura Aristina, Linda Purwaningsih menambahkan, dalam seharinya rata-rata bisa menjual 20 tiwul yang dikemas dengan kertas karton atau juga besek. Dan paling ramai di akhir pekan, saat banyak pengunjung dating di  warung makan  ndas ( kepala) ikan Beong “ Sehati” yang persis di depan rumahnya itu.

Untuk memasarkan tiwul lava Merapi tersebut, dirinya membuka toko oleh- oleh di rumahnya yang ada di Dusun Bumen, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur atau berjarak sekitar arah barat dari Candi Borobudur.

Selain itu, juga dipasarkan secara daring melalui jejaring media sosial seperti WhatsApps, Facebook dan Instagram. Dyas

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar