Mencicipi Nikmatnya Sate Kelinci Khas Bandungan

KBRN, Semarang : Bandungan bukan hanya menawarkan wisata alam atau gemerlap surga wisata malam sebagai julukan yang sudah melekat. 

Suhu udara kawasan itu yang sejuk,  membuat wisatawan singgah ke beberapa pusat kuliner yang menjajakan sate kelinci untuk sekadar mengisi perut. 

Olahan satu ini, merupakan kuliner yang banyak diburu, bahkan menjadi ikon wisata kuliner Bandungan. 

Area pasar Baru Bandungan menjadi pusat kuliner dengan menjamurnya puluhan pedagang yang menjajakan sate kelinci. 

Salah seorang pemilik kedai sate kelinci khas Bandungan Yanti mengatakan, jenis kelinci yang diambil dagingnya adalah kelinci lokal dan blasteran Australia. 

"Jenis kelinci blasteran usia 4-5 bulan memiliki daging lebih banyak dan tumbuh lebih cepat," kata dia kepada rri.co.id, Sabtu (30/10/2021).

Seharinya,  dia bisa menghabiskan 4 sampai 5 ekor kelinci. Sebelumnya, di masa PPKM dia hanya mampu menjual 1 ekor kelinci itu pun dengan perjuangan ekstra. 

"Lumayan kalau sekarang, kemarin untuk menghabiskan satu ekor kelinci susahnya minta ampun. Malam Minggu aja satu ekor habis merdeka mas," ungkapnya.

Konon, kata dia, daging kelinci punya segudang manfaat bagi tubuh. Dia mengungkapkan, mulai mencegah kolesterol serta mampu meningkatkan vitalitas pria. 

"Kalau ayam berbahaya bagi yang punya riwayat kolesterol. Tapi kalau kelinci kandungan kolesterolnya lebih minim. Otak kelinci di percaya untuk meningkatkan vitalitas pria," tuturnya

Selain itu, pecinta kuliner yang punya riwayat  diabetes dan hipertensi pun bisa menyantap kuliner satu ini sepuasnya. 

Cita rasa dari tiap gigitan sate kelinci yang di padukan kuah kacang bertabur potongan bawang, sangat cocok menemani para food hunter sembari menghangatkan tubuh yang kedinginan. 

Lembutnya tekstur daging berwarna merah muda membuat penikmatnya ketagihan. Apalagi jika dinikmati dengan sepiring nasi hangat atau lontong. 

Yanti menyebut, pasokan daging kelinci berasal dari hasil ternak miliknya. Tak hanya menjual dalam bentuk olahan, dia pun juga menjual bibit kelinci. 

"Memanfaatkan hasil ternak sendiri, tapi kalau tidak mencukupi nyari di pasar," ujarnya

Sate kelinci di warung Bu Yanti di banderol dengan harga Rp 30 ribu per porsi, pengunjung pun bebas memilih nasi atau lontong sebagai pelengkap. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar