40 Sapi dan Kerbau di Kendal Positif Kena PMK

KBRN, Kendal : Sebanyak 40 ekor hewan ternak di Kabupaten Kendal dinyatakan positif terkena penyakit mulut dan kuku (PMK). Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal per tanggal 27 Mei 2022 hewan ternak yang terpapar PMK terdiri atas 31 ekor sapi dan kerbau 9 ekor. Tersebar di lima kecamatan, yakni di Kecamatan Boja, Singorojo, Limbangan, Kangkung, dan Sukorejo. 

 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kendal Pandu Rapriat Rogodjati mengatakan, hewan ternak tersebut baru diketahui terpapar PMK setelah seminggu berada di tempat penampungan. Berdasarkan hasil uji laboratorium terdapat 7 sapi dan 1 kerbau yang positif PMK. Namun hewan lainnya yang berada dalam satu kandang memiliki gejala yang sama, sehingga dinyatakan positif PMK juga. Gejala yakni lesi di mulut, lendir berlebih, luka di kaki dan kuku. 

 

"Hewan ternak tersebut ada yang berasal dari Bojonegoro, Ambarawa, Blora dan Rembang. Di Kendal hanya sebagai transit, karena oleh pengepul akan dijual di luar daerah," katanya.

 

Pandu mengatakan, petugas tidak bisa melakukan pengambilan sampel PCR semua hewan, karena terkendala biaya yang cukup mahal, yakni Rp. 500 ribu untuk sekali PCR. Padahal di APBD Kendal tahun ini tidak dianggarkan. "Biaya untuk PCR cukup mahal, sehingga kami dibantu oleh Balai Besar Veteriner di Wates," ujarnya.

 

Dikatakan, semua hewan ternak yang positif PMK harus dilakukan isolasi minimal selama 14 hari. Petugas juga melakukan penyembuhan untuk menjadi imunitas tubuh hewan tersebut. Pihaknya juga terus melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap hewan ternak yang masuk ke wilayah Kendal. "Sambil dilakukan karantina untuk 14 hari ke depan sesuai masa inkubasi, juga dilakukan penyembuhan untuk menjaga imun tubuh hewan," katanya

 

Bupati Kendal, Dico M Ganinduto mengatakan, hewan ternak yang teridentifikasi positif PMK tersebar di lima kecamatan. Untuk sementara belum melakukan penutupan tempat perdagangan hewan sapi, karena masih bisa dikendalikan dan berkoordinasi dengan provinsi dan melakukan tracing dan testing lebih ditingkatkan. Selain itu saat ini menjelang Idul Qurban, supaya kegiatan perekonomian tetap berjalan. 

 

"Kami mengambil sikap belum menutup tempat perdagangan sapi, karena saat ini menjelang Idul Qurban supaya kegiatan perekonomian tetap berjalan, yang penting tetapi tetap waspada dengan meningkatkan testing dan tracing. Ini juga karena secara aturan dan rekomendasi dari pemerintah pusat, boleh menutup tempat perdagangan hewan sapi, tetapi tidak wajib," jelasnya. 

 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar