Firman Soebagyo: Petani Harus Bertransformasi

KBRN, Pati : Puluhan juta petani di Indonesia dalam proses pertanian, sebagian besar masih konvensional. Untuk itu, mereka harus mengubah pola pikirinya, dan mau bertransformasi terhadap peradaban dan budaya. 

Petani Indonesia harus berani mengubah diri menjadi modern serta melek teknologi yang terus berkembang dan mengikuti kemajuan zaman. Termasuk dibidang pertanian. Bila masih tetap mempertahankan dengan kebiasaan seperti yang sekarang ini, petani Indonesia semakin tertinggal. 

Saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Komoditas Sayuran dan Tanaman Obat Strategis, Hotel New Merdeka Pati, Kamis (30/6/2022), Anggota Komisi IV DPR RI H Firman Soebagyo SE MH mengatakan, saat ini petani mencapai lebih dari 30,34 juta orang itu, 70 persen di antaranya rerata berusia 50 tahun ke atas, 30 persen lainnya berusia 40 tahun ke bawah.

“Ini artinya transformasi dari anak muda ke pertanian ini harus kita lakukan. Anak-anak muda ini, kalau tidak dilakukan dan tidak didukung dengan kemajuan teknologi, mereka enggan untuk melakukan bergerak di sektor pertanian. Oleh karena itu, bimtek harus terus menerus kita lakukan dalam upaya meningkatkan kapasitas petani kita, dan meningkatkan kemampuan dalam adaptasi dan orientasi pemanfaatan teknologi itu,” terangnya.

Melalui bimtek yang bersifat peningkatan kapasitas petani muda inilah, mereka bertemu dan berdialog dengan para pakar di bidang pertanian. Harapannya, mereka bisa bertani dengan baik.

Firman sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, berkepentingan untuk memfasilitasi kepada petani di wilayah yang diwakilinya.

“Ini masih ada 29 paket pelatihan dan bimtek peningkatan kapasitas untuk sektor-sektor lainnya. Ada perikanan, kehutanan, peternakan dan lainnya. Saya tadi kepada petani problem-problem yang selama ini alami petani terutama masalah bibit yang terkadang tak terkendali harganya, anomali cuaca yang sulit diprediksi, serta ketersediaan pupuk, penggunaan pupuk produksi sendiri yang tidak tersertifikasi, dan masalah stabilitasi harga,” terangnya.

Firman Soebagyo juga meminta pemerinta, untuk bisa menyerap problem yang dihadapi petani, apalagi kebijakan import yang tidak sinkron, yang justru membebani petani ketika panen.

Materi bimtek tersebut, masalah ‘Budidaya Bawang Merah’ oleh  petugas BPTP Jateng Aryana Citra Kusumasari SSi MP, dan masalah ‘OPT Bawang Merah’ oleh petugas BPTPH Jateng Ari Marhaeniati. (Agus Pambudi)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar