Belanja Alkes Dalam Negeri Tinggi, Tiga RS Jateng Diapresiasi Kemenkes 

Gus Yasin didampingi Menkes RI Budi Gunadi

KBRN, Semarang : Tiga rumah sakit di Jawa Tengah mendapatkan apresiasi dari Kementerian Kesehatan karena berkomitmen belanja alat kesehatan (alkes) buatan dalam negeri. Ketiga rumah sakit itu membelanjakan anggarannya lebih dari 50 persen untuk pengadaan alkes dalam negeri.

Apresiasi diberikan pada acara Fasilitasi Pengembangan Alkes Produksi UMKM di Hotel Alila, Jumat (18/8/2022) di Hotel Alila Surakarta. Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan L Rizka Andalucia menuturkan, secara global, penggunaan alat kesehatan produksi dalam negeri di Jawa Tengah masih belum memuaskan, yakni 23,17 persen. Namun terdapat rumah sakit yang sudah menunjukkan komitmennya untuk menggunakan produksi dalam negeri, sehingga perlu diapresiasi. Tingginya transaksi alat medis dalam negeri itu, dimonitoring Kemenkes melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa serta Bahan Medis Habis Pakai (BMHP). 

Lucia membeberkan, selama periode Januari hingga Agustus 2022, tiga rumah sakit yang belanjanya tinggi adalah RSUD Budi Rahayu Kota Magelang. Rumah sakit ini melakukan transaksi alkes buatan dalam negeri hingga 99 persen. Tertinggi kedua adalah RSJ Kota Surakarta. Belanja alkesnya sebesar 76,41 persen dan berikutnya adalah RSJ Amino Gondohutomo dengan total belanja alkes dalam negeri sebesar 66,12 persen. 

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen merespon positif apresiasi yang telah diberikan Kemenkes. Pihaknya optimis, ini akan memicu rumah sakit lain untuk ikut belanja alkes dalam negeri. 

"Saya yakin setelah ada kegiatan ini, rumah sakit-rumah sakit akan berlomba-lomba untuk membeli alat kesehatan dari produk dalam negeri," ujarnya.

Agar penggunaan alat kesehatan dalam negeri semakin masif, Wagub berpandangan, tenaga medis maupun paramedis juga perlu aktif mensosialisasikannya. Sebab, biasanya, pasien akan meminta rekomendasi alat medis maupun obat dari dokternya.

"Saya juga berpesan kepada para pelaku kesehatan, yang mana di sini tenaga medis. Masih sering saya jumpai, masih sering saya dengar, ketika mau beli alkes itu bertanya dulu kepada dokternya. Saya khawatir kalau dokter ini nanti munculnya, Pak biasanya saya pakai alat ini yang notabenenya bukan produk Indonesia. Maka ini harus diubah," urai dia

Pada saat awal-awal penggunaan, kata Wagub, mungkin masih perlu penyempurnaan. Penyempurnaan itu lebih mudah dilakukan, karena produsennya dari dalam negeri. Semakin sering digunakan, maka alat kesehatan itu bisa semakin sempurna.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar