Mewaspadai Masuknya Varian Omicron Ke Indonesia

KBRN, Semarang : Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga Aditama meminta pemerintah untuk segera mengantisipasi masuknya varian Omicron ke Indonesia. Pasalnya, varian Omicron dikategorikan WHO sebagai varian mengkhawatirkan.

Ada potensi menular lebih cepat, kebal antibodi yang dihasilkan pasca vaksinasi, hingga risiko reinfeksi COVID-19. Karenanya, ada tujuh poin yang didesak Prof Tjandra untuk segera diperhatikan.

Pertama, menurutnya penting untuk mengkaji ulang kebijakan perjalanan masuk Indonesia.

"Secara rinci mengecek riwayat perjalanan, karena bisa saja sekarang datang dari negara aman misalnya tapi beberapa hari sebelumnya berkunjung ke negara terjangkit," beber dia dalam Press Release yang diterima RRI minggu, (28/11/2021).

Agar varian Omicron tidak masuk Indonesia, Prof Tjandra meminta karantina diperketat hingga meningkatkan jumlah testing whole genome sequencing (WGS) untuk melihat risiko kemunculan varian baru Corona B.1.1.529.

"Sebaiknya dapat sampai beberapa puluh ribu pemeriksaan seperti dilakukan India dan negara lain," sambung Prof Tjandra.

Pemerintah juga diminta untuk mewaspadai kemunculan klaster di sejumlah kabupaten kota. Tentunya dengan meningkatkan surveilans dan memastikan jumlah testing COVID-19 terus berada di standar minimal WHO.

"Melakukan telusur pada semua kontak dari seorang kasus, setidaknya sebagian besar, kalau ditetapkan hanya 8 orang yg ditelusuri maka pada berbagai keadaan mungkin belum cukup," kata dia.

Vaksinasi lansia

Salah satu hal yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah Indonesia adalah cakupan vaksinasi lansia. Laju vaksinasi beberapa pekan ke belakang juga mulai menurun. Setidaknya, ia meminta vaksinasi COVID-19 lengkap terus ditingkatkan.

"Selalu mengikuti perkembangan ilmiah yang ada, yang mungkin berubah amat cepat, dan semua keputusan harus berdasar bukti ilmiah 'evidence-based decision making process'," pungkas dia sembari menekankan masyarakat untuk tak lengah menerapkan protokol kesehatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar