Hari Gizi, Masyarakat Diminta Perhatikan Asupan Makanan Demi Kesehatan

KBRN, Pekalongan : Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Januari menjadi pengingat akan pentingnya gizi sebagai prioritas, terlebih di masa pandemi seperti sekarang. Menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh, dimulai dari memperhatikan asupan makanan yang diserap oleh tubuh.

Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Kota Pekalongan Ismanto SGz mengungkapkan, peringatan Hari Gizi Nasional ini adalah pentingnya mencegah secara dini baik itu stunting maupun obesitas, dimana kedua masalah tersebut harus segera dicegah. Dalam hal ini, ibu memiliki peran penting dalam menentukan makanan pada saat hamil dan pemberian gizi serta pola asuh pada anak setelah lahir.

Menurutnya, masalah gizi saat ini adalah gizi ganda yaitu kekurangan gizi belum teratasi, juga kelebihan gizi sudah mulai meningkat prevalensinya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa permasalahan gizi yang terjadi saat ini diantaranya stunting (pendek), underweight (kurang gizi), wasting (kurus), anemia pada ibu hamil, dan meningkatnya obesitas pada orang dewasa.

“Ini yang lebih dikhawatirkan kalau zaman dulu kalau gizi lebih itu diartikan sudah makmur, tetapi ternyata kelebihan gizi atau obesitas menimbulkan masalah terutama pada anak, dimana kecenderungan mereka di usia dewasa nanti akan menyebabkan penyakit degeneratif yang sebetulnya kalau zaman dahulu hanya pada keturunan tertentu dan usia sudah lanjut, tetapi ini pada usia dewasa resiko kecenderungan muncul penyakit itu akan lebih besar, sehingga perlu mendapat perhatian bersama untuk mencegah obesitas dan stunting pada anak,” terang Ismanto saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (25/1/2022).

Disampaikan Ismanto, untuk program stunting, di tahun 2022 ini Kota Pekalongan menjadi lokus stunting dengan menggandeng semua pihak khususnya Persagi dan Dinas Kesehatan Kota Pekalongan dengan sudah adanya program penanggulangan stunting yang dimulai dari usia reproduksi remaja dengan berbagai upaya diantaranya melakukan distribusi dan minum tablet tambah darah  yang sudah dilakukan di beberapa sekolah dan posyandu remaja di Kota Pekalongan, agar  remaja putri terbebas dari anemia. Pasalnya, anemia merupakan sumber dari permasalahan yang dikhawatirkan akan menjadi kompleks dan harus segera dicegah. Disamping itu, pihaknya bersama Dinas Kesehatan setempat melakukan distribusi suplemen vitamin A dosis tinggi pada Bulan Februari mendatang.

“Semua balita dan ibu nifas wajib mendapatkan kapsul vitamin A tersebut. Untuk mencegah stunting, kita juga akan mengawali, karena sudah menjadi lokus stunting, Dinas Kesehatan akan mengadakan rapat untuk penyusunan regulasi dengan harapan masalah stunting itu tidak hanya ditangani sektor kesehatan saja, melainkan semua pihak, mengingat permasalahannya cukup multikompleks, sehingga ada sinkronisasi kegiatan dan konvergensinya terhadap intervensi ini agar lebih optimal terhadap penurunan angka stunting di Kota Pekalongan,” ungkapnya.

Ismanto menyebutkan, data stunting Kota Pekalongan pada tahun 2020 sebesar 9,42 persen, dan di tahun 2021 sebesar 6,08 persen dari anak yang diukur jumlahnya berkisar 14.467 anak. Artinya, jika dilihat dari prosentase balita keseluruhan sekitar 22 ribuan, segingga masih ada 8 ribu anak yang belum tercover dan menjadi PR bersama, apakah jumlah tersebut sudah bebas stunting atau masih ada sumbangan angka stunting kembali.

“Sementara untuk indikator obesitas dilakukan menggunakan pengukuran antropometri berat badan menurut tinggi badan, jadi kita hitung IMT nya. Berat badannya (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badannya (dalam meter) dikuadratkan, nanti akan muncul berapa persen. Jika kurang dari 18 persen, maka bisa dianggap kurang gizi, kalau kisaran 18-25 persen cukup, diatas 25 persen termasuk obesitas,” paparnya.

Lebih lanjut, penyebab obesitas pada anak disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, kurangnya aktivitas pada anak, konsumsi/asupan lebih banyak terutama banyak mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, sehingga lebih cepat menimbulkan kenaikan berat badan. Dimana, kalorinya tidak akan terbakar dan tertimbun dalam bentuk lemak didalam tubuh.

“Dalam peringatan Hari Gizi Nasional ini, untuk masyarakat Kota Pekalongan, harapan kami, sesuai dengan slogan “Gizi Seimbang, Keluarga Sehat, Negara Akan Kuat”, maka perlunya orangtua untuk pola makan pada anaknya, supaya gizi seimbang itu terpenuhi. Dalam arti, gizi seimbang itu tidak berlebihan dan tidak kekurangan sesuai dengan ukuran, aktivitas, dan jenis orang tersebut,” tandasnya.(Miftachudin - Pekalongan)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar