Hari Guru, Progata Ajukan Empat Tuntutan ke Pemkab Blora

KBRN, Blora : Persatuan Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap (GTT/PTT) atau Progata Kabupaten Blora menuntut empat poin kepada pemerintah dalam peringatan Hari Guru Nasional 25 Nopember 2021, di antaranya kesejahteraan dan pengangkatan menjadi PPPK. 

Ketua Progata, Aries Eko Siswanto mengungkapkan empat tuntutan tersebut ialah kesejahteraan GTT PTT sesuai masa kerja tertinggi sama dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) serta mendapat jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan.

Selain itu, peserta seleksi PPPK guru tahun 2021 yang sudah lolos Passing Grade (PG) mendapat formasi tahun 2022 serta menuntut penyelesaian GTT PTT menjadi PPPK di tahun 2023. 

"Itu pernyataan resmi kami. Dan sudah kami sampaikan secara langsung kepada Pemkab Blora," kata Aries melalui sambungan telepon, Kamis (25/11/2021). 

Pihaknya berharap, dalam momen peringatan hari guru ini, pemerintah bisa lebih berpihak terhadap kesejahteraan dan nasib para guru honorer. Terlebih saat ini masih banyak guru honorer yang sudah lulus PG PPPK  tidak mendapatkan formasi. 

"Karena memang faktanya meski sudah ada PPPK, tapi banyak teman-teman kami yang tidak mendapatkan formasi. Dan kami minta tahun depan mereka yang sudah lolos PG diberi formasi tanpa harus ikut test kembali," pintanya. 

Aries menekankan akan terus mengawal dan memperjuangkan hak-hak daripada guru honorer ini. Termasuk kepastian juga nasib PTT. 

"Kami sudah mengajukan audiensi dengan Pemkab dan DPRD. Selain kita kawal PPPK, kita juga minta honor sesuai UMK, sesuai masa pengabdian," jelasnya. 

Terpisah, Ketua PGRI Blora, Sintong Jaka Kuswara mengatakan, PGRI akan terus berupaya mendorong pemerintah untuk memberikan kesejahteraan bagi guru honorer. Termasuk mengangkat mereka menjadi PPPK. 

"Dulu mas Nadiem pernah menyampaikan kebutuhan guru 1 juta, ternyata yang mendaftar 500 ribu sekian, yang terbuka formasi 300 ribu sekian yang keterima baru 173 ribu sekian. Itu langsung PGRI tahu tata cara pemerintah segitu rumitnya maka apa artinya, wong kita benar-benar kurang kok tidak mengangkat semua. Itu saja kalau diangkat semua, masih kurang 500 ribuan, iya tidak," jelasnya. 

Sintong mengharapkan di momen hari guru ini, pemerintah bisa lebih menghormati pengabdian pada guru honorer tersebut. 

"Mereka sudah mengabdi sekian lama, hormatilah. Kalau hanya dipakai acuan untuk menghadapi komputer di depan maka sejak itu pula mereka yang sudah berumur tidak bisa mencapai apa yang ditargetkan pemerintah," ungkapnya. 

(Ramananda) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar